Minggu, 31 Agustus 2014

Susunan kalimah yang membentuk jumlah / kalam, pada dasarnya hanya ada dua :

1. Jumlah Ismiyah (jumlah yang diawali dengan Isim). Jumlah ini tersusun atas : Mubtada' + Khobar
2. Jumlah Fi'liyah (jumlah yang diawali dengan Fi'il). Jumlah ini tersusun atas : Fi'il + Fa'il.
Namun, adakalanya tersusun beberapa kalimah, akan tetapi tidak termasuk jumlah / kalam, karena susunan kalimah tersebut tidak menghasilkan pengertian yang sempurna. Susunan kalimah seperti ini ada 3 yaitu :
1. Mudhof dan mudhof ilaih (ialah 2 isim atau lebih, yang dirangkai menjadi satu, sehingga menjadi satu rangkaian dan satu pengertian). Misalnya :
رَسُوْلُ اللّهِ = utusan Allah
بَيْتُ اللّهِ = rumah Alloh
اَرْكَانِ الْوُضُوْءِ بَابُ = bab rukun-rukun wudhu
2. Jar dan Majrur (ialah kharf jar dan isim sesudahnya yang dijarkan. keduanya menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan).
Misalnya :
فِي الْمَدْرَسَةِ = di sekolahan
مِنَ الْمَدِيْنَةِ اِلَي الْمَكَّةِ = dari Madinah ke Makkah
3. Shifat Maushuf (sifat dan yang disifati) biasa juga disebut dengan Na'at dan Man'ut.
Misalnya :
اَللّهُ الْعَظِيْمُ = Allah yang maha besar
اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ = Allah yang pengasih dan penyayang
Susunan-susunan kalimah di atas belum merupakan jumlah / kalam, karena belum nemberikan pengertian yang sempurna.
BAB ISIM-ISIM YANG HARUS DIRAFA'KAN

 Mubtada (subyek)
ü
 Khobar (predikat)
ü
 Shifat dari Maushuf yang beri'rob Rafa'
ü
 Fa'il (pelaku fi'il)
ü
 Naib Fa'il (pengganti Fa'il)
ü

1. JUMLAH ISMIYAH ( jumlah yang tersusun dari Mubtada’ dan Khobar )
( المبتدأ و الخبر )
= Utawi …+ Iku…/ Adapun…+ adalah…..

A. Pengertian Mubtada dan Khobar
Mubtada ialah Isim yang terletak pada permulaan jumlah (kalimat). Dalam bahasa Indonesia mubtada’ disebut dengan ‘subyek’ atau ‘pokok kalimat’. Itulah sebabnya kalau kita membicarakan Mubtada, kita harus membicarakan Khobar. Karena diantara keduanya saling terkait dan tak mungkin dipisahkan.
Dalam bahasa Indonesia, kapan ada subyek, harus ada predikat. Maka dalam bahasa Arabpun kapan ada mubtada’ harus ada khobar.
Khobar ialah yang menerangkan mubtada. Khobar bisa berupa isim ataupun fi'il, yang penting harus menerangkan mubtada'.
Mubtada’ dibaca dengan 'utawi' / 'adapun' dan Khobar dibaca dengan 'iku' / 'adalah'. Isim yang menjadi mubtada, biasanya diberi simbol huruf mim (م) kecil diatasnya. Sedangkan isim atau fi’il yang menjadi khobar, diberi tanda huruf kho (خ) kecil diatasnya. Kapan ada Mubtada, maka disitu mesti ada Khobar. Kapan ada 'utawi' / 'adapun', maka disitu mesti ada 'iku' / 'adalah'.
Mubtada’ bersama-sama dengan Khobar membentuk suatu ‘Jumlah’, dinamakan JUMLAH ISMIYAH. Jadi, Jumlah Ismiyah ialah jumlah yang terdiri dari Mubtada’ dan Khobar. (Mubtada' + Khobar = Jumlah Ismiyah). Contoh-contoh Jumlah Ismiyah, sekaligus nanti setelah kita membicarakan khobar.
B. I'rob Mubtada' dan Khobar
Mubtada' dan Khobar adalah termasuk isim-isim yang harus dirafa'kan I'robnya. Adapun tanda rafa'nya, tergantung pada isim yang menjadi mubtada' atau khobar itu. Apabila yang menjadi mubtada' / khobar itu adalah isim mufrod, maka tanda rafa'nya dengan dhommah. Begitu seterusnya, sesuai dengan tanda-tanda I'rob rafa' yang telah kita pelajari di muka.
C. Macam-macam Khobar.
Khobar ada 5 macam, yaitu :
1) Khobar Mufrod,
2) Khobar Jumlah Ismiyah
3) Khobar Jumlah Fi’liyah
4) Khobar jar majrur
5) Khobar mudhof dan mudhof ilaih

1. Khobar Mufrod
Ialah khobar yang hanya terdiri dari 'satu kalimah isim' walaupun 'satu kalimah isim' itu, berupa isim mufrod, atau isim tatsniyah, atau isim jama'.
Contoh :
زَيْدٌ Utawi Zaid, iku تِلْمِيْذٌ murid lanang siji زَيْدٌ تِلْمِيْذٌ
Adapun Zaid, adalah seorang murid lk 2

فَطِيْمَةُUtawi Fathimah, iku تِلْمِيْذَةٌ murid wadon siji فَطِيْمَةُ تِلْمِيْذَةٌ
(Adapun Fathimah , adalah seorang murid (pr)

زَيْدَانِ Utawi Zaid loro, iku تِلْمِيْذَانِ murid lanang loro زَيْدَانِ تِلْمِيْذَانِ
(Adapun Dua Zaid itu, adalah dua murid lk)

زَيْدُوْنَ Utawi Zaid akeh, iku تِلْمِيْذُوْنَ murid-murid kabeh زَيْدُوْنَ تِلْمِيْذُوْنَ
(Adapun Banyak Zaid itu, adalah murid)
اَلْمُعَلِّمَاتُ Utawi guru wadon akeh, iku عَالِمَاتٌ wong-wong kang pada pinter اَلْمُعَلِّمَاتُ عَالِمَاتٌ
(Adapun Guru-guru (pr) itu, adalah orang-orang yang pandai)

Ta'rib :
زَيْدٌ = isim mufrod mudzakkar, I'robnya rafa' karena menjadi mubtada', tanda rafa'nya dengan dhommah.
تِلْمِيْذٌ = isim mufrod mudzakkar, I'robnya rafa' karena menjadi khobar, tanda rafa'nya dengan dhommah.
فَطِيْمَةٌُ = isim mufrod muannats, I'robnya rafa' karena menjadi mubtada', tanda rafa'nya dengan dhommah.
تِلْمِيْذَةٌ = isim mufrod muannats, I'robnya rafa' karena menjadi khobar, tanda rafa'nya dengan dhommah.

Catatan untuk diingat :1. Kalau ada isim di permulaan jumlah, berarti itu Mubtada'. Berarti di situ mesti ada khobarnya. Kalau mubtada sudah ditemukan khobarnya, maka harus sudah mahamke. Kalau belum mahamke, berarti khobarnya belum pas.
2. Mubtada' dan khobar harus beri'rob Rafa'. Kecuali apabila khobarnya berupa jar-majrur atau fi'il, maka tidak harus rafa', akan tetapi mengikuti aturan I'robnya sendiri. Sedangkan rafa'nya khobar hanya mahal (menempati) saja.
Misalnya :
زَيْدٌ لَنْ يَقْرَءَ الْكِتَابَ , زَيْدٌ فِي الدَّارِ ,
2. Khobar Jumlah Ismiyah.
Ialah khobar yang berupa jumlah ismiyah (mubtada + khobar) atau jumlah ismiyah yang menjadi khobar dari suatu mubtada'. Contoh :
زَيْدٌ utawi Zaid, iku اَبُوْهُ utawi bapake Zaid, iku مُعَلِّمٌ guru زَيْدٌ اَبُوْهُ مُعَلِّمٌ
(Adapun Zaid, bapaknya adalah seorang guru)

فَطِيْمَةُ utawi Fathimah, iku اُمُّهَا utawi ibune Fathimah, iku مُعَلِّمَةٌ guru فَطِيْمَةُ اُمُّهَا مُعَلِّمَةٌ
(Adapun Fathimah itu, ibunya adalah seorang guru)

فَطِيْمَةُ utawi Fathimah, وَ زُلَيْحَةُ lan utawi Zulaikhah, iku جَارِيَتُهُمَا utawi pelayane, iku ذَاهِبَةٌ lunga. فَطِيْمَةُ وَ زُلَيْحَةُ جَارِيَتُهُمَا ذَاهِبَةٌ
(Adapun Fathimah dan Zulaihah itu, pelayan wanitanya pergi)

 Ta'ribnya :
q
• Ladadz زَيْدٌ adalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya rafa', karena menjadi mubtada, tanda rafa'nya dhommah.
• Lafadz اَبُوْهُ terdiri dari اَبُوْ (isim 5) dan هُ (isim dhomir muttashil). Jadi, lafadz اَبُوْهُ adalah mudhof dan mudhof ilaih.
Lafadz اَبُوْ (isim 5) adalah mudhof nya, beri'rob rafa' karena menjadi mubtada, tanda rafa'nya hurufو , Sedangkan dlomir muttashil ( هُ ) adalah mudhof ilaih, i’robnya jar, tanda jarnya mabni, karena isim dhomir.
• Lafadz مُعَلِّمٌ adalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya rafa',
karena menjadi khobarnya lafadz اَبُوْهُ Jadi, susunan lafadz اَبُوْهُ مُعَلِّمٌ adalah mubtada dan khobar ( jumlah ismiyah ), yang di sini menduduki jabatan khobar dari lafadz زَيْدٌ yang menjadi mubtada’ awal.

• Lafadz فَطِيْمَةُ adalah isim mufrod muanats, beri'rob rafa' karena menjadi mubtada’, tanda rafa’nya dhommah. Sedangkan susunan اُمُّهَا مُعَلِّمَةٌ adalah jumlah ismiyah yang menjadi khobarnya فَطِيْمَةُ
Lafadz اُمُّهَا ( terdiri dari اُمُّ = mudhof, dan هَا = mudhof ilaih) adalah mubtada’. Dan lafadz معلمة adalah isim mufrod muannats, beri’rob rafa’ karena menjadi khobarnya أمها, tanda rafa’nya dhommah.
• Lafadz فطيمة و زليحة , masing-masing adalah isim mufrod muannats yang beri’rob rafa’, karena menjadi mubtada’, tanda rafa’nya dengan dhommah.
Sedangkan lafadz جاريتهما ذاهبة terdiri dari (جاريتهما adalah mubtada', dan ذاهبة adalah khobar) adalah jumlah ismiyah yang menjadi khobar dari lafadz فطيمة و زليحة .
• Lafadz جاريتهمَا adalah susunan mudhof dan mudhof ilaih, terdiri dari جارية= mudhof, dan هما = mudhof ilaih
Lafadz جارية adalah isim mufrod muannats, beri’rob rafa’ karena menjadi mubtada’, tanda rafa’nya dengan dhommah.
Dan lafadz هما adalah isim dhomir muttashil, i’robnya jar karena menjadi mudhof ilaih, tandanya mabni karena isim dhomir.
3. Khobar 'Jumlah Fi'liyah'
Yaitu khobar yang terbentuk dari Jumlah Fi'liyah, atau Jumlah Fi'liyah yang menjadi khobar. Jadi, khobar jumlah fi’liyah itu mesti minimal terdiri dari fi’il dan fa’il. Contoh :

زَيْدٌ Utawi Zaid, iku يَكْتُبُ lagi nulis sapa Zaid, الدَّرْسَing pelajaran (adapun Zaid,adalah sedang menulis pelajaran) زَيْدٌ يَكْتُبُ الدَّرْسَ

(هُمْ)Utawi deweke kabeh, iku (يَقْرَئُوْنَ) lagi maca sapa deweke kabeh (دَرْسَهُمْ) ing pelajarane deweke kabeh (Adapun mereka, adalah sedang membaca pelajaran mereka) هُمْ يَقْرَئُوْنَ دَرْسَهُمْ
• Lafadz زيدٌ adalah isim mufrod mudz, i'robnya rafa' karena menjadi mubtada, tanda rafa'nya dengan dhommah.
• Lafadz يَكْتُبُ adalah fi'il mudhore' shohih akhir. Fa'ilnya, dhomir هُوَ (زَيْدٌ) yang tersimpan didalam fi’il itu.
• Lafad الدرسَ adalah isim mufrod mudz. i'robnya nashab karena menjadi maf'ul bih dari يَكْتُبُ tanda nashabnya dengan fatkhah.
• Rangkaian يكتبُ الدَّرْسَ adalah jumlah Fi'liyah ( karena terdiri dari : Fi'il + Fa'il + Maf'ul bih, yang disini menduduki posisi Khobar dari lafadz زَيْدٌ
• Jadi, lafad زيدُ adalah Mubtada, yang khobarnya berupa khobar jumlah fi'liyah.
4. Khobar Jar - Majrur.
Yaitu khobar yang terbentuk dari 'jar - majrur'. Atau rangkaian jar-majrur yang menduduki posisi khobar. Jar-majrur ialah, istilah untuk 'kharf jar dan isim dibelakangnya yang dijarkan'. Contoh :
زَيْدٌ Utawi Zaid, iku فِىْ الدَّارِ ana ing ngomah (Adapun Zaid adalah berada di rumah) زَيْدٌ فِىْ الدَّارِ
 Keterangan :
q
• Lafadz زيدٌ adalah isim mufrod mudzakkar, beri'rob rafa' karena menjadi mubtada, tanda rafa'nya dhommah.
• Lafadz فِىْadalah kharf jar
• dan Lafadz الدارِ adalah isim mufrod mudzakkar, I'robnya jar karena didahului oleh kharf jar, tanda jarnya kasroh karena isim mufrod..
• Rangkaian فِى الدَّارِ (dinamakan Jar-Majrur) , menduduki I'rob rafa' karena menjadi khobar.
• Jadi lafadz زيدٌ فِى الدَّارِ adalah Jumlah Ismiyah, yang khobarnya berupa Jar-majrur (khobar jar-majrur)

التَّلاَمِيْذُ Utawi murid-murid, iku فِي مَدْرَسَتِهِمْ ingdalem sekolahane deweke kabeh. (Murid-murid berada di sekolahan mereka). التَّلاَمِيْذُ فِي مَدْرَسَتِهِمْ
5. Khobar Mudhof dan Mudhof ilaih.
Yaitu khobar yang berupa mudhof dan mudhof ilaih. Mudhof dan mudhof ilaih ialah 2 isim atau lebih yang dirangkai menjadi satu, sehingga membentuk satu pengertian, dan menduduki satu jabatan. Contoh :
اَلْكِتَابُ Utawi kitab, iku عِنْدَكَ ana ingdalem sandingira (Adapun Kitab itu, adalah berada di dekatmu) اَلْكِتَابُ عِنْدَكَ
 Ta'ribnya :
q
• Lafadz الكتابُ adalah isim mufrod mudz., beri'rob rafa' karena sebagai mubtada, tanda rafa'nya dhommah.
• Lafadz عندكterdiri dari lafadz عند dan ك yang dirangkai menjadi satu sehingga menjadi satu pengertian, dan menduduki satu jabatan. Rangkaian seperti ini dinamakan 'mudhof dan mudhof ilaih'.Lafadz عند= isim dzorof, I'robnya rafa' karena menjadi mubtada' tandanya mabni fatkhah. dia sebagai mudhof. Lafadz ك = isim dhomir muttashil, I'robnya jar karena mudhof ilaih, tanda jarnya mabni.
• Jadi, الكتابُ عندكadalah jumlah ismiyah, yang khobarnya berupa mudhof dan mudhof ilaih, yaitu عندك
Catatan untuk diingat :
1. Khobar bisa berupa : isim, fi'il, jar-majrur, ataupun mudhof dan mudhof ilaih, bahkan bisa berupa jumlah. Yang penting menerangkan mubtada, dan cocok dibaca dengan iku / adalah.
2. Di dalam jumlah, khobar tidak mesti jatuh setelah mubtada' langsung, tetapi kadang terpisah oleh jar-majrur atau kalimah lain sehingga khbarnya ada jauh di belakang. Bahkan dalam hal-hal tertentu, khobar harus didahulukan dari mubtadanya.
3. Khobar harus beri'rob rafa', itu apabila khobar mufrod. Adapun selain khobar mufrod, rafa'nya hanya makhal saja

BAB MUDHOF DAN MUDHOF ILAIH
A. Pengertiannya.
Sebelum kita melangkah ke pembicaraan lebih lanjut, penting sekali kalau di sini kita bicarakan terlebih dulu rangkaian 'mudhof dan mudhof ilaih'. Karena rangkaian ini akan banyak kita jumpai di dalam jumlah-jumlah.
Mudhof dan Mudhof ilaih ialah 2 isim atau lebih yang dirangkai menjadi satu rangkaian, sehingga membentuk satu pengertian dan menduduki satu jabatan. Dimana isim yang di depan dinamakan mudhof, dan isim yang dibelakang dinamakan mudhof ilaih. Dan apabila rangkaian itu terdiri dari 3 isim atau lebih, maka isim yang paling depan dinamakan mudhof, dan isim yang dibelakangnya dinamakan 'mudhof ilaih tetapi masih mudhof', dan baru isim yang paling belakang , yang dinamakan mudhof ilaih. Contoh Mudhof dan Mudhof ilaih :
bab wudhu بَابُ الْوُضُوْءِ
bab rukun-rukun wudhu بَابُ اَرْكَانِ الْوُضُوْءِ
bab mengetahui rukun-rukun wudhu بَابُ مَعْرِفَةِ اَرْكَانِ الْوُضُوْءِ

B. Hukum Mudhof dan Mudhof ilaih.
1) Mudhof , i'robnya berubah-ubah sesuai dengan jabatannya atau sesuai dengan 'amil yang masuk kepadanya (bisa rafa', bisa nashab dan bisa jar). Sedangkan Mudhof ilaih, selamanya harus beri'rob jar.
2) Mudhof tidak boleh ada AL (alif-lam)nya, dan tidak boleh tanwin. Sedangkan mudhof ilaih harus ada AL-nya atau harus tanwin.
3) Mudhof dan Mudhof ilaih, biasa diterjemahkan dengan : “.......e.…….” atau “......maring.......” atau “……….saking............” Misalnya :
كتابُ زيدٍ kitabe Zaid ( Kitabnya Zaid )
تَقْوَى اللهِ taqwa maring Allah ( Taqwa kepada Allah )
خاتمُ الْحَدِيْدِ ali-ali saking wesi ( cincin dari besi )
4) Jika yang dimudhofkan adalah isim tatsniyah atau isim jama' mudzakkar, maka 'nun' nya harus dibuang. Misal :
dua kitab Zaid كِتَابَانِ زَيْدٍ ← كِتَابَا زَيْدٍ
orang-orang musyrik Makkah مُشْرِكِيْنَ الْمَكَّةِ ← مُشْرِكِي الْمَكَّةِ
dua orang tuaZaid وَالِدَيْنِ زَيْد ← وَالِدَيْ زَيْد
5) Antara mudhof dan mudhof ilaih harus dibaca satu rangkaian (tidak boleh dipisahkan), karena menduduki satu jabatan. Misal :

مَعْرِفَةُ اَرْكَانِ الْوُضُوْءِ utawi ngaweruhine rukun-rukune wudhu, iku وَاجِبٌ wajib, عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ingatase saben-saben wong Islam مَعْرِفَةُ اَرْكَانِ الْوُضُوْءِِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
(Adapun mengetahui rukun-rukun wudhu, itu adalah wajib bagi setiap muslim)

Catatan untuk diingat :
1. Walaupun terdiri dari beberapa isim, namun karena telah menjadi satu pengertian, maka rangkaian mudhof-mudhof ilaih di dalam jumlah bisa menjadi khobar, mubtada, fa'il, atau posisi-posisi lain, tergantung kebutuhan.
2. I'rob mudhof-mudhof ilaih yang terpengaruh oleh kedudukannya di dalam jumlah (kalau mubtada / khobar / fa'il harus beri'rob rafa'), hanyalah I'rob mudhof yang paling depan saja, dan mudhof ilaihnya tetap jar

2. JUMLAH FI'LIYAH (jumlah yang tersusun dari : Fi'il dan Fa'il)

A. Pengertian Fa'il ( Pelaku pekerjaan)
Dalam bahasa Indonesia Fa'il disebut dengan 'pelaku pekerjaan'. Setiap ada fi'il (pekerjaan) mesti ada fa'il (pelaku pekerjaan itu). Fi'il bersama-sama dengan fa'il membentuk Jumlah Fi'liyah, yaitu jumlah yang diawali dengan fi’il, atau jumlah yang susunannya : Fi'il + Fa'il.
Dalam penerjemahan bahasa Jawa, Fa’il biasanya dibaca dengan 'sapa' jika yang menjadi fa’il itu berakal, dan dibaca dengan 'apa' jika yang menjadi fa’il itu tidak berakal.
Apabila suatu fi’il telah disebutkan fa’ilnya maka harus sudah memberikan pengertian, karena sudah terbentuk suatu jumlah / kalam, yaitu jumlah Fi’liyah. Kecuali apabila fi’ilnya transitif (fi'il yang membutuhkan obyek), maka baru akan terbentuk pengertian yang sempurna setelah diberikan obyeknya. Dalam bahasa Arab, obyek disebut dengan Maf’ul Bih. Jadi, susunannya menjadi: ( Fi’il + Fa’il + Maf’ul Bih )
Fa’il termasuk isim yang harus di rafa’ kan.
Di bawah ini contoh jumlah fi'liyah yang fi'ilnya lazim (tidak membutuhkan obyek / yang dikenai pekerjaan), sehingga susunannya cukup dengan : Fi'il + Fa'il
تَبْكِىْ Lagi nangis, sopo فَطِيْمَة Fathimah تَبْكِىْ فَطِيْمَةُ
Fathimah sedang menangis

يَمْرَضُ Lagi lara, sopo سَنُوْسِى Sanusi يَمْرَضُ سَنُوْسِى
Sanusi sedang sakit
 Keterangan : تَبْكِىْ
q dan يَمْرَضُadalah fi'il mudhore', fi'il lazim (tidak butuh obyek / maf'ul bih)

Di bawah ini contoh jumlah fi'liyah yang fi'ilnya muta'addi (membutuhkan obyek / yang dikenai pekerjaan), sehingga susunannya cukup dengan : Fi'il + Fa'il + Maf'ul bih
قَرَاَ Wus maca, sopo التِّلْمِيْذَانِ murid loro, الدَّرْسَ ing pelajaran قَرَاَ التِّلْمِيْذَانِ الدَّرْسَ
Dua murid (lk) telah membaca pelajaran

يَقْرَءُ Lagi maca, sopo التَّلاَمِيْذُ murid akeh, الدَّرْسَ ing pelajaran يَقْرَءُ التَّلاَمِيْذُ الدَّرْسَ
Murid-murid sedang menulis pelajaran

يَقْرَأُ Lagi maca, sopo الْمُدَرِّسُوْنَ guru-guru, الْمَجَلَّةَ ing majalah يَقْرَأُ الْمُدَرِّسُوْنَ الْمَجَلَّةَ
Guru-guru (lk) sedang membaca majalah
 Keterangan : قَرَاَ dan يَقْرَءُ
q adalah fi'il madhi dan fi'il mudhore', fi'il Muta'addi (butuh obyek / maf'ul bih)
 Ta'rib :
q
• Lafadz فَطِيْمَةُ adalah isim mufrod muannats, i’robnya rafa, karena menjadi fa’il dari fi’il تَبْكِىْ tanda rafa’nya dommah, karena ia isim mufrod.
• Lafadz سَنُوْسِى adalah isim mufrod mudzakkar. I’robnya rafa’, karena menjadi fa’il dari fi’il يَمْرَضُ Tanda rafa’nya dhommah muqoddar (dhommah yang disembunyikan ), karena ia isim manqush (isim yang berakhir dengan huruf Yak)
• Lafadzاَلتِّلْمِيْذَانِ , adalah isim tatsniyah mudzakkar, i’robnya rafa’, karena menjadi fail dari fi’il قَرَاَ tanda rafa’nya alif, karena isim tatsniyah.
Dan begitu untuk seterusnya, silahkan anda mencobanya.

B. Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan Fa’il
1) Antara fi'il dengan fa'il harus bersesuaian dalam hal mudzakkar atau muannatsnya. Jika fa’ilnya muannats, maka fi’ilnyapun harus muannats (diberi ‘tak’ ta’nits’ تْ ) sehingga jika pada fi’ilnya ada tak ta’nits, maka fa’ilnya mesti isim muannats. Contoh :
أَكَلَتْ Wus mangan, sopo فَطِيْمَةُ Fathimah, الرَّغِيْفَ ing roti أَكَلَتْ فَطِيْمَةُ الرَّغِيْفَ
Fathimah telah makan roti

تَقْرَاُ Lagi maca sopo التِّلْمِيْذَةُ murid, دَرْسَهَا ing pelajarane تَقْرَاُ التِّلْمِيْذَةُ دَرْسَهَا
Murid (pr.1) sedang membaca pelajarannya
2) Meski fa’ilnya isim jama’, fi’il nya tetap mufrod. Contoh :
يَقْرَاُ Lagi maca, sopo الْمُسْلِمُوْنَ wong Islam akeh, الْقُرْآنَ ing Al Qur’an يَقْرَاُ الْمُسْلِمُوْنَ الْقُرْآنَ
Orang-orang Islam sedang membaca Al Qur’an

تَقْرَاُ Lagi maca, sopo الْمُسْلِمَاتُ wong-wong Islam(pr), الْقُرْآنَ ing Al Qur’an تَقْرَاُ الْمُسْلِمَاتُ الْقُرْآنَ
Orang-orang Islam (pr) sedang membaca Al Qur’an
3) Adakalanya fa’il berupa jumlah. Contoh :
يَجِبُ wajib, عَلَيْكُمْ ingatase sira kabeh, apa اَنْ تَبِرُّوْا bekti sapa sira kabeh, وَالِدَيْكُمْ ing wong tuwa loroira kabeh يَجِبُ عَلَيْكُمْ اَنْ تَبِرُّوْا وَالِدَيْكُمْ
Wajib atas kamu semua, berbakti kepada kedua orang tuamu

يَجِبُ Wajib عَلَيْكُمْ ingatase sira kabeh, opo تَصُوْمُوْا اَنْ poso sopo sira kabeh, رَمَضَانَ ingdalem wulan Romadhon يَجِبُ عَلَيْكُمْ اَنْ تَصُوْمُوْا رَمَضَانَ
Wajib atas kamu semua, berpuasa di bulan Romadhon
C. Macam-macam Fa’il
Fa’il dibagi menjadi 2 macam.
1) Fa’il isim dzohir
yaitu Fa'il yang berupa isim yang berada di belakang fi'ilnya. Contoh-contoh Fa'il yang telah disebutkan di atas, semuanya adalah fa'il-fa'il isim dhohir. Kecuali pada fi'il اَنْ تَبِرُّوْا dan اَنْ تَصُوْمُوْا , maka fa'il dari ke dua fi'il ini berupa dhomir اَنْتُمْ yang tersimpan di dalam kedua fi'il itu. Perhatikan dengan seksama semua contoh-contoh di atas !
2) Fa’il isim dhomir
yaitu Fa’il yang tidak tampak, karena berupa isim dhomir yang tersimpan di dalam fi’ilnya. Perhatikan kembali dengan seksama perubahan-perubahan fi'il madhi, mudhori' dan amar yang telah kita pelajari. Kita telah ketahui bahwa semua perubahan-perubahan itu sesuai dengan isim-isim dhomir yang menjadi fa'il dari fi'il-fi'il itu.

Contoh-contoh fa'il isim dhomir :

كَتَبْتُ \اَكْتُبُ wus nulis / lagi nulis sapa ingsun, الدَّرْسَ ing pelajaran, فِي كِتَابِيْ ingdalem kitabingsun كَتَبْتُ \اَكْتُبُ الدَّرْسَ فِي كِتَابِيْ
Saya telah / sedang menulis pelajaran di dalam bukuku.

ذَهَبْتُمْ \ تَذْهَبُوْنَ wus berangkat / lagi berangkat sapa sira kabeh, اِلَي مَدْرَسَتِكُمْ maring sekolahanira kabeh, صَبَاحًا ingdalem wektu esuk ذَهَبْتُمْ \ تَذْهَبُوْنَ اِلَي مَدْرَسَتِكُمْ صَبَاحًا
Kalian telah berangkat / sedang berangkat ke sekolahan kalian diwaktu pagi.

اِذْهَبِيْ Berangkata sapa sira wadon !, اِلَي مَدْرَسَتِكِ maring sekolahanira, كُلَّ يَوْمٍ ingdalem saben-saben dina اِذْهَبِيْ اِلَي مَدْرَسَتِكِ كُلَّ يَوْمٍ
Berangkatlah kamu pr, ke sekolahmu setiap hari
Keterangan :
Kalimah-kalimah yang digaris bawahi pada contoh-contoh di atas, semuanya adalah fi'il. Sedangkan fa'ilnya, adalah isim-isim dhomir yang tersimpan di dalam fi'il-fi'il itu (fa'il isim dhomir)

Catatan untuk diingat :
1. Pada dasarnya jumlah itu hanya ada 2, yaitu Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah
2. Jumlah fi'liyah = Fi'il + Fa'il (jika fi'ilnya lazim) dan Fi'il + Fa'il + Maf'ul bih (jika fi'ilnya muta'addi).
3. Untuk bisa mengetahui apakah fi'il itu lazim atau muta'addi, hanya dengan mengetahui 'arti'nya.

4. Baik jumlah ismiyah maupun jumlah fi'liyah, adakalanya hanya menjadi bagian dari suatu jumlah (mungkin sebagai khobar, fa'il, ataupun maf'ul bih.

3. Naib Fa’il ( نَائِبُ الْفَاعِلِ )
=Pengganti Fa'il
Setiap fi’il harus memiliki fa’il. Akan tetapi, jika :
tidak diketahui fa’ilnya, atau telah sangat diketahui fa’ilnya, maka suatu fi’il biasanya tidak di sebutkan fa’ilnya, kemudian maf’ulnya dijadikan sebagai pengganti fa’il (naib fa’il), dengan proses sebagai berikut :

1) Fi’il tersebut diubah dari mabni ma’lum (bentuk kata kerja aktif) menjadi fi’il mabni majhul (bentuk kata kerja pasif)
2) Maf’ul bih (obyek penderita) dari fi’il tersebut, dijadikan naib fa’il (pengganti fa’il), sehingga yang semula i’robnya nashab karena menduduki jabatan maf’ul bih, sekarang i’robnya berubah menjadi rafa’ karena telah menjadi Naib Fa’il.

Cara menjadikan fi’il mabni ma’lum (kata kerja aktif) menjadi fi’il mabni majhul (kata kerja pasif) ialah :
1. Untuk fi’il Madli, maka dengan :
ضُمَّ اَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ اَخِرِهِ ( didommah huruf awalnya dan dikasroh huruf yang sebelum akhir )
Contoh :
1. نَصَرَ = menolong, menjadi نُصِرَ = ditolong
2. ضَرَبَ = memukul, menjadi ضُرِبَ = dipukul
3. كَتَبَ = menulis, menjadi كُتِبَ = ditulis
2. Untuk Fi’il Mudlori’, maka dengan :
ضُمَّ اَوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ اَخِرِهِ ( didommah huruf awalnya, dan difatkhah huruf yang sebelum akhir )
Contoh :
1. يَنْصُرُ menjadi يُنْصَرُ
2. يَضْرِبُ menjadi يُضْرَبُ
3. يَكْتُبُ menjadi يُكْتَبُ
Jadi, naib fa’il itu pada dasarnya adalah maf’ul bih dari suatu fi’il, yang karena tidak disebutkan fa’ilnya, maka ia dijadikan sebagai pengganti fa’il tersebut.
هو نُصِرَ يُنْصَرُ Dia (lk 1) ditolong
هما نُصِرَا يُنْصَرَانِِ Dia (dua lk ) ditolong
هم نُصِرُوا يُنْصَرُوْنَ Mereka (lk) ditolong
هي نُصِرَتْ تُنْصَرُ Dia (pr) ditolong
هما نُصِرَتَا تُنْصَرَانِ Dia ( pr 2) ditolong
هنّ نُصِرْنَ يُنْصَرْنَ Mereka (pr) ditolong
انت نُصِرْتَ تُنْصَرُ Kamu (lk) ditolong
انتما نُصِرْتُمَا تُنْصَرَانِ Kamu (2lk) ditolong
انتم نُصِرْتُمْ تُنْصَرُوْنَ Kamu semua ditolong
انت نُصِرْتِ تُنْصَرِيْنَ Kamu (pr) ditolong
انتما نُصِرْتُمَا تُنْصَرَانِ Kamu (2pr ) ditolong
انتنّ نُصِرْتُنَّ تُنْصَرْنَ Kamu (lk ) ditolong
انا نُصِرْتُ اُنْصَرُ Saya ditolong
نحن نُصِرْنَا نُنْصَرُ Kita ditolong
 Contoh-contoh Jumlah yang tidak disebutkan fa'ilnya, sehingga
q fi’ilnya mabni Majhul dan maf'ul bihnya dijadilan Naib Fa’il
كُتِبَ Diwajibake عَلَيْكُمُ ingatase sira kabeh, opo الصِّيَامُ shiyam, كَمَا كُتِبَ kaya olehe diwajibake opo shiyam, عَلَى الَّذِيْنَ ingatase wong akeh مِنْ قَبْلِكُمْ saking sakdurunge sira kabeh. كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ

 Ta'ribnya :
q
• Lafadz كُتِبَ adalah fi’il madhi mabni majhul.
• Dan lafadz الصِّيَامُadalah isim mufrod mudzakkar, beri’rob rafa’ karena menjadi naib fa’il. Tanda rafa’nya dengan dhommah, karena isim mufrod.
Adapun jika disebutkan fa'ilnya adalah :
كَتَبَ Wus majibake ‎sopo اللَّه ُ Alloh, عَلَيْكُمُ ingatase sira kabeh, الصِّيَامَ ing shiyam, كَمَا kaya olehe كَتَبَهُAlloh wus majibake sapa Alloh ing shiyam, عَلَى الَّذِيْنَ ingatase wong akeh, مِنْ قَبْلِكُمْ saking sadurunge sira kabeh. Allah telah mewajibkan shiyam atas kamu semua, sebagaimana Allah telah ‎mewajibkan shiyam atas orang-orang yang sebelum kamu semua كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ كَمَاكَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ

وَاِذَا قُرِئَ Lan nalikane diwaca, opo الْقُرْآنُ al Qur’an, فَاسْتَمِعُوا mangka padha ngrungokna sopo sira kabeh, لَهُ maring al Qur'an. (Dan ketika dibacakan alQur’an, maka dengarkanlah) وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ

 Ta'ribnya :
q
• Lafadz قُرِئَ adalah fi’il madhi mabni majhul.
• Dan lafadz الْقُرْآنُ adalah isim mufrod mudzakkar, beri’rob rafa’ karena sebagai naib fa’il. Adapun tanda rafa’nya dengan dhommah, karena ia isim mufrod.
Adapun jika disebutkan fa'ilnya, adalah :
وَاِذَا قَرَأَ Lan nalikane wus maca, sapa القَارِئُ wong kang maca, الْقُرْآنَ ing al Qur’an, فَاسْتَمِعُوا mangka padha ngrungokna sopo sira kabeh لَهُ maring al Quran. (Dan ketika pembaca telah membacakan al Qur’an, maka dengarkanlah) وَاِذَا قَرَأَ القَارِئُ الْقُرْآنَ فَاسْتَمِعُوا لَهُ

 Tarkib :
q وَاِذَا قَرَأَ القَارِئُ الْقُرْآنَ فَاسْتَمِعُوا لَهُ
• Lafadz وَ adalah kharf isti'naf (untuk mengawali jumlah) dan lafadz اِذَا adalah kharf syarat.
• Lafadz قَرَأَ adalah fi’il madhi mabni ma’lum, i'robnya mabni fatkhah karena tidak bertemu dengan wawu jama', tak fa'il, nun fa'il, dan nun niswah.
• Lafadz القَارِئُ adalah isim mufrod, I'robnya rafa' karena menjadi fa'il, tanda rafa'nya dhommah karena isim mufrod.
• Lafadz الْقُرْآنَ adalah isim mufrod mudzakkar, i’robnya nasab karena menjadi maf’ul bih, tanda nasabnya dengan fatkhah, karena ia isim mufrod.
• Lafadz فَاسْتَمِعُوا adalah فَ = kharf jawab, dan اسْتَمِعُوا adalah fi'il amar, I'robnya mabni jazm, tanda jazmnya membuang huruf Nun.
• Lafadz لَهُ adalah : لَ = kharf jar, dan هُ= isim dhomir muttashil, I'robnya jar karena didahului oleh kharf jar, tandanya mabni.
4. Tawabi' (Isim-isim yang i'rob dan hukumnya mengikuti isim yang sebelumnya). Tawabi' ada 4 macam, yaitu :
1. Shifat dari Maushuf yang beri’rob Rafa’
Sifat - Mausuf ialah 2 isim atau lebih yang berangkaian (jejer), dimana isim yang dibelakang mensifati isim yang di depannya, dan disebut Shifat / Na’at, sedangkan isim yang di depannya, yang disifati, dinamakan Maushuf / Man’ut
Shifat, i’robnya mengikuti maushufnya. Jika maushufnya beri’rob rafa’, maka shifatnya juga ikut beri’rob rafa’. Dan jika maushufnya beri’rob nashab, maka shifatnya juga harus beri’rob nashab. Begitu pula apabila maushufnya beri’rob jar, maka shifatnya juga beri’rob jar. Shifat - Maushuf dibaca dengan ‘YANG’ atau ‘KANG’.
Disamping shifat harus mengikuti maushuf dalam hal i’robnya, shifat harus juga mengikuti maushuf dalam hal :
1. Mudzakkar atau Muannatsnya. (jika maushufnya mudzakkar, maka shifatnya harus juga mudzakkar. Begitu pula sebaliknya)
2. Mufrod atau jama’nya. (jika maushufnya isim mufrod, maka shifatnya harus juga isim mufrod. Begitu pula jika maushufnya isim jama’, maka shifatnyapun harus juga isim jama’)
3. Nakiroh atau ma’rifatnya. (jika maushufnya berupa isim nakiroh, maka shifatnya harus juga isim nakiroh. Dan jika maushufnya isim ma’rifat, maka shifatnya harus juga isim ma’rifat).
 Pendeknya, sifat dan mausuf itu ialah 2 isim atau lebih yang berjajar,
q dan memiliki kesamaan jenis, serta cocok diberi ma’na kang,
 Contoh-contoh
q jumlah (kalimat) yang didalamnya terdapat rangkaian sifat - mausuf.
مُحَمَّدٌ Utawi Muhammad, iku وَلَدٌ anak, صَالِحٌ kang sholih (Muhammad adalah anak yang sholih) مُحَمَّدٌ وَلَدٌ صَالِحٌ

هَذَا Utawi iki, iku كِتَابٌ kitab, جَدِيْدٌ kang anyar (Ini adalah sebuah kitab yang baru). هَذَا كِتَابٌ جَدِيْدٌ

زَيْدٌ Utawi Zaid, وَ عُمَرٌ lan Umar, iku تِلْمِيْذَانِ murid 2, مُجْتَهِدَانِ kang rajin. (Zaid dan Umar adalah 2 murid yang rajin). زَيْدٌ وَ عُمَرٌ تِلْمِيْذَانِ مُجْتَهِدَانِ

قَرَأْتُ Maca sopo ingsun, الْقُرْآنَ ing al Qur’an الْكَرِيْمَ kang mulya. (saya telah membaca al Quran yang mulia) قَرَأْتُ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ

صَلَّيْنَا Sholat sopo kita, فِى الْمَسْجِدِ ingdalem masjid, الْكَبِيْرِ kang agung. صَلَّيْنَا فِى الْمَسْجِدِ الْكَبِيْرِ

فَطِيْمَةُ Utawi Fatimah, iku اُسْتَاذَةٌ guru, مَاهِرَةٌ kang pinter. (Fatimah adalah seorang guru yang pandai) فَطِيْمَةُ اُسْتَاذَةٌ مَاهِرَةٌ

 Catatan :
q
Sifat harus sama dengan mausuf seperti yang disebutkan diatas, adalah sifat yang disebut dengan Sifat Haqiqi atau Na’at Haqiqi. Selain itu, asal cocok diterjemah dengan ‘kang…(yang…)’ berarti itu sifat / na'at. Fi'il yang jatuh setelah isim nakiroh juga Shifat / Na'at yang harus dibaca ' kang '.
Misalnya :
وَاتَّقُوْا Lan wedia sopo sira kabeh , يَوْمًا ing suwijining dina, تُرْجَعُوْنَ kang bakal den balikake sapa sira kabeh, اِلَى اللهِmaring Allah. (dan takutlah kamu semua, terhadap suatu hari, yang kamu semuaakan dikembalikan kepada Allah) وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ اِلَى اللهِ

زَيْدٌ Utawi Zaid iku تِلْمِيْذٌ murid, يَتَعَلَّمُ kang lagi nyinauالُّغَةَ bahasa الْعَرَبِيَّةَ kang bangsa Arab, فِى مَدْرَسَتِهِ ingdalem sekolahane. (Zaid adalah seorang murid yang mempelajari bahasa Arab di sekolahnya). زَيْدٌ تِلْمِيْذٌ يَتَعَلَّمُ الُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ فِى مَدْرَسَتِهِ

 Tarkib :
q
• Lafadz اتَّقُوْاadalah fi’il amar, fa’ilnya adalah dhomir اَنْتُمْ yang tersimpan pada fi'il itu.
• Sedangkan lafadz يَوْمًاadalah isim mufrod mudzakkar, i’robnya nashab karena menjadi maf’ul bih, tanda nashabnya dengan fatkhah
• Lafadz تُرْجَعُوْنَ adalah fi'il 5 mabni majhul. Adapun naib fa'ilnya, ialah dhomir اَنْتُمْ yang tersimpan didalam fi'il itu. Lafadz تُرْجَعُوْنَ disini dibaca kang , karena menjadi shifat dari lafadz يَوْما (fi'il jatuh setelah isim nakiroh) ً
• Lafadz زَيْدٌadalah isim mufrod mudzakkar, i’robnya rafa’ karena menjadi mubtada, tanda rafa’nya dhommah karena ia isim mufrod.
• Lafadz تِلْمِيْذٌ adalah isim mufrod, i’robnya rafa’ karena menjadi khobarnya lafadz زَيْدٌ, tanda rafa’nya dhommah.
• Sedangkan lafadz يَتَعَلَّمُadalah fi’il mudhore’ shohih akhir, beri’rob rafa’ karena tidak didahului oleh ‘amil, tanda rafa’nya dengan dhommah, karena ia fi’il mudhore’ shohih akhir.
• Lafadz يَتَعَلَّمُdibaca kang, karena ia menjadi shifat dari lafadz تِلْمِيْذٌ (fi'il jatuh setelah isim nakiroh)
Catatan yang perlu diingat :
1. Sebagai pengganti Fa'il, maka Naib Fa'il juga termasuk isim yang harus di rafa'kan.
2. Sampai sekarang ini, berarti sudah 5 tempat rafa'nya isim
( al Marfu'at ) yang telah kita pelajari. Yaitu :
(1) Mubtadak, (2) Khobar, (3) Fa'il, (4) Naib Fa'il, dan (5) Sifat dari Mausuf yang I'rabnya rafa'

BAB ISIM MA’RIFAT DAN ISIM NAKIROH
 Isim Ma’rifah
q
ialah isim yang telah dibatasi keumumannya, sehingga menjadi tertentu. Isim ma'rifah ada 6 macam, yaitu :
1. Isim-isim Dhomir (kata ganti). Baik isim dhomir munfashil ataupun isim dhomir muttashil.
2. Isim ‘Alam (nama-nama individu).
Misalnya : زَيْدٌ , عُمَرٌ , فَطِيْمَةُ , عَائِشَةُ , dll.
3. Isim-isim Isyaroh (kata tunjuk).
Misalnya : (lihat pada bab Isim Isyaroh di depan)
4. Isim-isim Maushul (kata sambung).
Misalnya : (lihat pada bab Isim Maushul di depan)
5. Isim-isim yang ada AL ( ال ) pada permulaannya.
Misalnya :اَلْبَيْتُ , اَلْمَسْجِدُ , اَلرِّجْلُ , اَلذَّهَبُ , dll
6. Semua isim yang disandarkan (dimudhofkan) kepada salah satu dari Isim-isim ma’rifat diatas.
Misalnya :
كتابُ فَطِيْمَة utawi kitabe Fatimah, iku جَدِيْدٌ anyar (Kitabnya Fatimah, baru) كتابُ فَطِيْمَة جَدِيْدٌ

كِتَابُ هَذَا utawi kitabe wong iki, iku جَدِيْدٌ anyar (Kitabnya orang ini, baru) كِتَابُ هَذَا جَدِيْدٌ

كِتَابُهُمْ utawi kitabe deweke kabeh, iku جَدِيْدٌ anyar (Kitab mereka baru) كِتَابُهُمْ جَدِيْدٌ

هَذَا utawi iki, iku كِتَابُ الَّذِيْ kitabe wong يَقُوْمُ kang ngadeg sapa wong, أَمَامَ الْفَصْلِ ingdalem ngarepe kelas. (Ini adalah kitabnya orang yang berdiri di depan kelas itu) هَذَا كِتَابُ الَّذِيْ يَقُوْمُ أَمَامَ الْفَصْلِ

هَذَا utawi iki, iku كِتَابُ التِّلْمِيْذِ kitabe iki murid (Ini, kitabnya murid itu) هَذَا كِتَابُ التِّلْمِيْذِ
 Isim Nakiroh.
q
ialah kebalikan dari isim ma'rifah. Yaitu isim yang masih bersifat umum, dan belum diberikan pembatasan. Isim Nakiroh, biasanya ber'tanwin' dan tidak ada AL (ال). Dan bila pada permulaan isim nakiroh diberikan AL, maka isim nakiroh berubah menjadi isim ma'rifat. Misalnya :
بَيْتٌ = rumah كتابٌ = kitab
مَدْرَسَةٌ = sekolahan دَرَاجَةٌ = sepeda
رَجُلٌ = seorang laki-laki دَفْتَرٌ = sebuah buku
Pokoknya selain isim ma'rifah yang di atas, semua isim adalah nakiroh .

Catatan untuk diingat :
1. Selain shifat yang i’robnya mengikuti maushuf, sebenarnya masih ada isim-isim lain yang i’robnya juga mengikuti isim- isim yang sebelumnya. Hal seperti ini dalam ilmu nahwu dinamakan Tawabi’ (isim-isim atau fi’il-fi’il yang i’robnya mengikut kepada isim / fi’il yang sebelumnya ). Tawabi’ ada 4 macam, yaitu :
(1) Shifat-maushuf, (2) Taukid- Muakkad, (3) Badal-Mubdal, (4) ‘Athaf-Ma’thuf.
Akan tetapi disini kita cukupkan mengetahui Shifat-Maushuf saja dulu, dan yang lainnya kita pelajari sambil berjalan hingga sampai pada babnya nanti.
2. Sampai disini, setiap menemukan jumlah (kalimat) , kita harus sudah benar-benar :
1) Tahu mana khobarnya jika jumlah itu jumlah ismiyah
2) Mengetahui mana fa’ilnya jika jumlah itu jumlah fi’liyah
3) Tahu kedudukan setiap kalimah dalam suatu jumlah.
4) Tahu maksud (pengertian ) dari jumlah itu.

2. Athaf dan Ma'thuf

Ialah mengikutkan hukum suatu isim atau fi'il kepada hukum isim atau fi'il yang sebelumnya, karena adanya kesamaan, dengan menggunakan kharf-kharf tertentu.

Macam-macam kharf 'athaf
Kharf 'Athaf ada 10 macam, yaitu :
وَ dan قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌ |وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ
فَ kemudian قَامَ زَيْدٌ فَعَمْرٌو
أَوْ atau قام زيد أَوْ عمرو | وَقَالُواْ كُونُواْ هُودًا أَوْ نَصَارَى
بَلْ balik / bahkan مَاقام زيد بَلْ عمرو
أَمْ ataukah أزيد عندك أَمْ عمرو
إِمَّا bisa jadi قام إِمَّا زيد وَإِمَّا عمرو
حَتَّى sehingga قام الْقَوْمُ حَتَّى زيد
لاَ tidak قام زيد لاَ عمرو
ثُمَّ kemudian قام زيد ثُمَّ عمرو
لَكِنَّ melainkan ما رأيت أَحَدًا لَكِنَّ جَعْفَرًا

Keterangan :
I'rob Ma'thuf (yang diikutkan / yang setelah kharf 'athaf) harus mengikuti Ma'thuf 'alaih (yang diikuti / yang sebelum kharf 'athaf). Begitu pula posisinya di dalam jumlah. Jika yang di'athafi Fa'il, maka yang di'athafkan juga ikut menjadi fa'il. Jika yang di'athafi Maf'ul, maka yang di'athafkan juga ikut menjadi maf'ul. Begitu seterusnya.
Cara menerjemahkan :
(قَامَ) wus ngadeg sapa (زَيْدٌ) Zaid, ((وَ lan wus ngadeg, sapa (عَمْرٌو') Amr. (Zaid telah berdiri dan juga 'Amr) قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو

مَا كَانَ مُحََّدٌ اَبَا اَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلكِنْ رَسُوْلَ الّلهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ
(مَا كَانَ) ora ana, sapa (مُحََّدٌ) Muhammad, ora ana iku (اَبَا اَحَدٍ) bapake wong suwiji (مِنْ رِجَالِكُمْ) saking wong-wongira kabeh, (وَلكِنْ) anging tetapine ana sapa Muhammad, ana iku (رَسُوْلَ الّلهِ) utusane Alloh (وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ) lan pungkasane para nabi
Ta'ribnya :
(مَا) adalah kharf Nafi
(كَانَ) adalah fi'il madhi naqish yang merafa'kan mubtada' dan menasabkan khobar.
(مُحََّدٌ) adalah isim mufrod mudzakkar, I'robnya rafa' karena menjadi fa'ilnya
(اَبَا اَحَدٍ) adalah rangkaian mudhof-mudhof ilaih. (اَبَا) mudhofnya, adalah isim 5, i'robnya nashab karena menjadi khobarnya (كَانَ), tandanya dengan alif. (اَحَدٍ) mudhof ilaihnya, adalah isim mufrod mudzakkar, I'robnya jar karena mudhof ilaih, tandanya dengan kasroh..
(مِنْ) adalah kharf jar
(رِجَالِكُمْ) adalah rangkaian mudhof-mudhof ilaih. (رِجَالِ) mudhofnya, adalah isim jama' taksir, i'robnya jar karena didahului oleh kharf jar. كُمْmudhof ilaihnya adalah isim dhomir muttashil, i'robnya jar karena mudhof ilaih.
(َ ولكِنْ)adalah kharf 'athaf.
(رَسُوْلَ الّلهِ) adalah rangkaian mudhof-mudhof ilaih. (رَسُوْلَ) mudhafnya, adalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya nashab karena di'athafkan kepada (اَبَا اَحَدٍ) yang beri'rob nasab karena khobarnya (كَان)
(الّلهِ) adalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya jar karena mudhof ilaih, tandanya dengan kasroh.
(وَ) adalah kharf 'athaf
(خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ) adalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya nasab karena di'atafkan kepada (رَسُوْلَ) yang beri'rob nasab, tandanya dengan fatkhah.
(النَّبِيِّيْنَ) adalah isim jama' mudzakkar, i'robnya jar karena mudhof ilaih, tanda nya dengan yak.
3. Taukid dan Muakkad
Taukid ialah " yang menguatkan ", dan muakkad ialah " yang dikuatkan ", jadi taukid mesti jatuh setelah muakkad. Taukid bisa berupa isim bisa berupa fi'il, dan bisa berupa harf.
Taukid ada 2 macam, yaitu : Taukid Lafdziy dan Taukid Ma'nawiy.
Taukid lafdziy ialah taukid dengan pengulangan lafadz baik isim, fi'il, kharf , atau bahkan jumlah.. Misalnya :
جاَءَ زَيْدٌ زَيْدٌ( dengan mengulangi isim )
أَتَاكَ أَتَاكَ اللاَّحِقُوْنَ ( dengan pengulangan fi'il )
لاَ لاَ وَاللهِ لاَ اَقُوْلُ ذَلِكَ ( dengan pengulangan kharf )
ضَرَبْتُ زَيْدًا ضَرَبْتُ زَيْداً ( dengan pengulangan jumlah )
Adapun Taukid ma'nawi ialah taukid dengan menggunakan lafadz-lafadz yang telah tertentu untuk mentaukidi. Lafadz-lafadz itu ialah :

Lafadz Taukid Keterangan Contoh
نَفْسٌ Untuk mentaukidi isim Mufrod جاَءَ الْخَلِيْفَةُ نَفْسُهُ
عَيْنٌ Untuk mentaukidi isim Mufrod جاَءَ الْخَلِيْفَةُ عَيْنُهُ
كُلُّ Bisa untuk mentaukidi isim Mufrod atau Jamak جَاءَ الْجَيْشُ كُلُّهُ | جَاءَ الرِّجَالُ كُلُّهُمْ
جَمِيْعٌ Bisa untuk mentaukidi isim Mufrod atau Jamak جَاءَ الْجَيْشُ جَمِيْعُهُ| جَاءَ الرِّجَالُ جَمِيْعُهُمْ
عَامَّةٌ Bisa untuk mentaukidi isim Mufrod atau Jamak جَاءَ الْجَيْشُ عَامَّتُهُ| جَاءَ الرِّجَالُ عَامَّتُهُمْ
كِلاَ Untuk mentaukidi isim Tasniyah mudzakkar جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا
كِلْتَا Untuk mentaukidi isim Tasniyah muannats جَاءَتْ اَلْهِنْدَانِ كِلْتَاهُمَا

Beberapa kaidah yang berkaitan dengan taukid dan muakkad.
1. Pada taukid ma'nawi harus ada dhomir yang sesuai / kembali kepada muakkad (yang ditaukidi). Lihat contoh-contoh diatas !
2. Untuk lebih mentaukid lagi, terkadang suatu jumlah diberi 2 lafadz taukid sekaligus. Misalnya :
فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ
3. Taukid harus mengikuti muakkad, dalam hal : I'robnya, ma'rifat / nakirohnya, serta dhomir yang ada pada lafadz taukid harus sesuai dengan isim yang ditaukidi.
4. Badal dan Mubdal
Badal ialah isim atau fi'il yang hukumnya diikutkan pada isim atau fi'il yang sebelumnya. agar pengertian isim yang sebelumnya itu menjadi lebih jelas. Badal diterjemah dengan HIYA / YAKNI. Isim yang terletak di depan disebut Mubdal minhu ( yang dibadali ) dan isim yang di belakang di namakan Badal.
Badal i'robnya wajib mengikuti Mubdal minhu (yang dibadali), baik Rafa', Nasab, atau Jarnya.
Badal ada 4 macam :
1. Badal Syai' min Syai' (الشَّيْءُ مِنَ الشَّيْءِ) atau disebut juga badal Kul min Kul (الْكُلُّ مِنَ اْلكُلِّ) Yaitu apabila badal merupakan keseluruhan dari mubdal minhu (yang dibadali). Misalnya :

(جَاءَ) Wus teka, sapa (زَيْدٌ ) Zaid, (أخُوْكَ) hiya sedulur lanangira
جَاءَ زَيْدٌ أخُوْكَ

Zaid, yakni saudara laki-lakimu, telah datang

(اِهْدِنَا) Mituduhana sapa Panjenengan ing kita, (الصِّرَاطَ) ing dalan (المُستَقِيمَ) kang jejeg, (صِرَاطَ الَّذِينَ) hiya dalanipun tiyang-tiyang ingkang........
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ ......
Tunjukilah kami jalan yang lurus, yakni jalannya orang-orang yang........


Keterangan :
 Lafadz (أخُوْ) adalah isim 5, yang i'robnya rafa', karena menjadi
ü badal dari lafadz (زَيْدٌ), tanda rafa'nya wawu. Sedangkan lafadz (زَيْدٌ) adalah isim mufrod, i'rabnya rafa' karena menjdi fa'ilnya (جَاءَ), tanda rafa'nya dengan dhommah.

 Lafadz (صِرَاطَ) adalah isim mufrad mudzakkar, i'robnya nasab, karena
ü menjadi badal dari lafadz (الصِّرَاطَ), tanda nasabnya dengan fatkhah. Sedangkan lafadz (الصِّرَاطَ) adalah isim mufrod mudzakkar, i'rabnya nasab karena menjdi maf'ul bih kedua dari (اِهْدِنَا), tanda nasabnya dengan fatkhah.
2. Badal Ba'd min Kul ( البَعْضُ مِنَ اْلكُلِّ ). Yaitu apabila badal merupakan bagian dari mubdal minhu. Di sini, badal wajib memiliki dhomir yang kembali kepada mubdal minhu walaupun adakalanya dhomir itu hanya muqoddar ( dikira-kirakan ) Misalnya :

(أَكَلْتُ ) Mangan sapa ingsun ( الرَّغِيْفَ ) ing roti ( ثُلُثَهُ ) hiya ing sepertelune roti أَكَلْتُ الرَّغِيْفَ ثُلُثَهُ
Saya makan roti sepertiganya

( ضَرَبْتُ ) Mukul sapa ingsun ( زَيْدًا ) ing Zaid ( رَأْسَهُ ) hiya ing sirahe Zaid ضَرَبْتُ زَيْدًا رَأْسَهُ
Saya memukul Zaid kepalanya

(وَارْزُقْ) Lan ngrezqinana sapa sira (أَهْلَهُ) ing keluargane deweke (مِنَ الثَّمَرَاتِ ) saking buah-buahan (مَنْ) hiya ing wong (آمَنَ) kang iman sapa wong (مِنْهُمْ) saking deweke kabeh (بِاللهِ) kelawan Allah (وَاْليَوْمِ) lan kelawan dina (اْلآخِرِ) kang akhir. وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ

Dan berilah rizqi keluarganya dari buah-buahan, yakni orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dari mereka
3. Badal Isytimal ( الاشتمال ) Yaitu apabila badal merupakan sesuatu yang terkandung dalam mubdal minhu. Di sini, badal wajib memiliki dhomir yang kembali kepada mubdal minhu. Misalnya :
(أَعْجَبَنِيْ) Gawe gumun ing ingsun, sapa (زَيْدٌ) Zaid (عِلْمُهُ) hiya ilmune Zaid أَعْجَبَنِيْ زَيْدٌ عِلْمُهُ
Zaid membuatku terkesima ilmunya

(سُلِبَ) dicopot sapa (زَيْدٌ) Zaid (ثَوْبُهُ) hiya klambine Zaid سُلِبَ زَيْدٌ ثَوْبُهُ

Zaid bajunya dilepas

(يَسْأَلُوْنَكَ) Takon sapa deweke kabeh ing sira (عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ) saking sasi harom (قِتَالٍ) hiya saking perang (فِيْهِ) ingdalem sasi harom يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan harom, yakni tentang perang di dalam bulan harom

4. Badal Gholat ( ) Yaitu apabila badal merupakan ralat dari mubdal minhu. Misalnya :

(وَأَكَلْتُ ) Lan mangan sapa ingsun (خُبْزًا ) ing roti ( تَمْرًا ) maksudku ing kurma وَأَكَلْتُ خُبْزًا تَمْرًا
Saya makan roti (maksud saya)makan kurma

(رَأَيْتُ ) Ningali sapa ingsun ( زيداً ) ing Zaid ( الفَرْسَ ) maksudku ing jaran رَأَيْتُ زيداً الفَرْسَ
Saya melihat Zaid (maksud saya) melihat kuda

BAB : ISIM-ISIM YANG HARUS DINASHABKAN
( اَلْمَنْصُوْبَاتُ )
Kapan isim-isim itu harus dinashabkan ?
Isim-isim harus beri’rob nashab, apabila :
(1) Menjadi Maf’ul bih, (2) menjadi Shifat dari Maushuf yang beri’rob nasab, (3) menjadi Maf’ul liAjlih, (4) apabila menjadi Isimnyaكَانَ atau saudara-saudaranya, (5) apabila menjadi khobarnyaإنَّ atau saudara-saudaranya. (6) menjadi Tamyiz, (7) menjadi Khal, (8) menjadi Maf’ul Fih, (9) menjadi Munada Idhofah, dan (10) apabila menjadi Maf’ul Ma’ah, (11) menjadi Mashdar / Maf’ul Muthlaq, (12) menjadi Mustatsna

1. MAF’UL BIH (اَلْمَفْعُوْلُ بِهِ )
Obyek penderita = ing…….
A. Pengertiannya
Dalam bahasa Indonesia maf’ul bih disebut dengan obyek penderita atau yang dikenai pekerjaan. Yaitu isim yang jatuh setelah fi’il dan merupakan obyek ( yang menjadi sasaran) dari fi’il itu. Maf’ul bih harus dii’robi nashab, dalam penerjemahan bahasa Jawa, biasa diterjemahkan dengan ing.. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini.

(قَرَأَ)Wus maca, sopo (زَيْدٌ) Zaid ,( اَلْكِتَابَ) ing kitab.(Zaid telah membaca kitab) قَرَأَ زَيْدٌ اَلْكِتَابَ

(كَتَبَتْ)Wus nulis, sopo ( فَطِيْمَةُ) Fathimah,( الدَّرْسَ) ing pelajaran (Fatimah telah menulis pelajaran) كَتَبَتْ فَطِيْمَةُ الدَّرْسَ

(نَصَرْتُ) Wus nulungi sopo ingsun, (هُمْ) ing deweke kabeh (Aku telah menolong mereka) نَصَرْتُهُمْ

 I’rabnya :
q
• Lafadz اَلْكِتَابَadalah isim mufrod mudzakkar, i’robnya nasab, karena menjadi maful bih dariقَرَأ َ tanda nashabnya dengan fatkhah karena ia isim mufrod.
• Lafadz الدَّرْسَ adalah isim mufrod mudzakkar, I’robnya nashab karena mehjadi maf’ul bih, tanda nashabnya dengan fatkhah.
• Lafadz هُمْadalah isim dhomir muttashil, i’robnya nashab karena menjadi maf’ul bih, tanda nashabnya mabni (ajeg)
B. Beberapa kaidah yang berkaitan dengan Maf’ul Bih.
1. Maf’ul bih tidak harus berupa kalimah isim. Adakalanya, kalimah fi’il atau bahkan jumlah, bisa juga menduduki posisi maf’ul bih. Pokoknya, setiap yang cocok dibaca ING, berarti maf’ul bih. Contoh :
(وَاسْأَلْ) Lan nyuwuna sopo sira, (رَبَّكَ) ing Pangeranira, (أَنْ يَرْزُقَ) ing supaya ngrezekeni sopo Pangeranira,(كَ) ing sira, (وَلَدًا) ing anak (صَالِحًا) kang sholih (dan mintalah kamu kepada Tuhanmu agar dia merizqikan kepadamu seorang anak yang sholih) وَاسْأَلْ رَبَّكَ أَنْ يَرْزُقَكَ وَلَدًا صَالِحًا

(أَشَهَدُ) Nyekseni sopo ingsun, ing (أَنَّ مُحَمَّدًا) setuhune utawi Muhammad SAW iku(رَسُوْلُ اللهِ) utusanipun Allah. (Saya bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah Rasul Allah) أَشَهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Susunan kalimah أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ adalah jumlah ismiyah, yang menduduki posisi i’rob nasab, karena menjadi maf’ul bih.
Adakalanya maf’ul bih didahulukan dari fa’ilnya. Contoh:
ضَرَبَ Wus mukul كَ ing sira , sapa زَيْدٌ Zaid (Zaid telah memukulmu) ضَرَبَكَ زَيْدٌ

إِيَّاكَ ing Panjenengan (duh Allah), نَعْبُدُ nyembah sopo kula sedaya, وَإِيَّاكَ lan ing Panjenengan, نَسْتَعِيْنُ nyuwun pitulungan sapa kula sedaya (Hanya kepadaMu (ya Allah) kami semua menyembah, dan hanya kepadaMu kami minta tolong) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
2. Suatu fi’il, kadang butuh 2 atau 3 maf’ul.
Contoh:
عَلَّمْتُ mulang sopo ingsun كَ ing sira, عُلُوْمَ الدِّيْنِ ing ilmu-ilmu agama (Aku mengajarkanmu ilmu-ilmu agama) عَلَّمْتُكَ عُلُوْمَ الدِّيْنِ

سَاَلْتُ takon sopo ingsun اْلاُسْتَاذَ ing guru, مَسْاَلَةً ing masalah (Aku bertanya kepada guru, suatu masalah) سَاَلْتُ اْلاُسْتَاذَ مَسْاَلَةً
Tentang fi’il-fi’il yang membutuhkan 2 atau 3 maf’ul ini, nanti akan dibicarakan dalam bab tersendiri.
Keterangan :
Pada contoh-contoh di atas, semua kalimah yang digaris bawahi, adalah kalimah-kalimah yang menduduki posisi ‘maf’ul bih’. Oleh karena itu harus dinashabkan’ dan harus diterjemah dengan ING.

Penting untuk diketahui, bahwa yang memiliki maf’ul bih bukan hanya fi'il saja, akan tetapi isim fa'il kadang juga membutuhkan maf'ul, misalnya : انّ اللهَ بَالِغٌ أَمْرَهُ. Isim masdar, kadang juga membutuhkan maf'ul. misalnya : ولَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ. Pendeknya yang cocok dibaca ING, maka itu maf'ul bih. baik jatuh setelah fi'il maupun setelah isim.

2. AT TAWABI'
Di depan telah diterangkan, bahwa Tawabi' ialah isim-isim yang i'robnya mengikuti isim-isim yang sebelumnya. Tawabi' ada 4 macam, yaitu :
a) Shifat, i'robnya mengikuti maushufnya (isim yang disifati).
b) 'Athaf, i'robnya mengikuti isim yang di ngathafi.
c) Badal, i'robnya mengikuti isim ysng dibadali,
d) Taukid, i'robnya mengikuti yang ditaukidi.
Keterangan :
1. Shifat dari Maushuf yang beri’rob Nashab.
Di atas telah diterangkan, bahwa i’rob shifat, mengikuti i’rob maushufnya. Artinya, jika suatu maushuf beri’rob nashab, maka shifatnya harus juga beri’rob nashab. Itulah sebabnya shifat dari maushuf yang beri’rob nashab, termasuk isim yang harus dinashabkan juga. Contoh :

يَكْتُبُ Lagi nulis sapa التَّلاَمِيْذُ murid-murid, ing الدَّرْسَpelajaran الْجَدِيْدَ kang anyar (Murid-murid sedang menulis pelajaran yang baru) يَكْتُبُ التَّلاَمِيْذُ الدَّرْسَ الْجَدِيْدَ

اِشْتَرَيْتُ wus tuku sopo ingsun كِتَابَيْنِ ing kitab loro جَدِيْدَيْنِ kang anyar karone. (Saya telah membeli dua buku yang baru) اِشْتَرَيْتُ كِتَابَيْنِ جَدِيْدَيْنِ

رَاَيْتُ wus ningali sopo ingsun, الْمُسْلِمِيْنَ ing wong-wong Islam الْمُجْتَهِدِيْنَ kang pada rajin-rajin, يَذْهَبُوْنَ lagi pada berangkat sapa deweke kabeh إِلَى اْلمَسْجِدِ maring masjid (Saya melihat orang-orang Islam yang rajin-rajin sedang berangkat ke masjid) رَاَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ يَذْهَبُوْنَ إِلَى اْلمَسْجِدِ

 Ta'ribnya :
q
• Lafadz يَكْتُبُ adalah fi’il mudhore’,
• Lafadz التَّلاَمِيْذُ adalah isim jama’ taksir, I’robnya rafa’ karena menjadi fa’ilnya يَكْتُبُ .
• Lafadz الدَّرْسَ adalah isim mufrod mudzakkar, beri’rob nashab, tanda nashabnya dengan fatkhah, karena menjadi maf’ul bih dari fi’il يَكْتُبُ , dan ia merupakan maushuf (yang disifati)
• Lafadz الْجَدِيْدَ adalah isim mufrod mudzakkar, i’robnya nashab, karena menjadi shifat dari maushuf yang beri’rab nashab.


catatan untuk diingat :
1. Rangkaian Shifat-Maushuf disebut juga dengan Na'at-Man'ut. Shifat harus mengikuti maushuf dalam hal i'rob, maupun jenis isimnya (mufrod / jama'nya, mudzakkar / muannatsnya, ma'rifat / nakirohnya). Sehingga apabila ada 2 isim atau lebih yang berjajar dan jenisnya sama, serta cocok dibaca kang, berariti itu rangkaian shifat-maushuf. Shifat yang seperti ini, dinamakan shifat hakiki.
2. Adapun shifat yang bukan hakiki, adalah semua 'bagian jumlah' yang cocok dibaca dengan kang. Misalnya :
وَاتَّقُوُا Lan wedia sapa sira kabeh, يَوْماً ing dina لاَ تَجْزِى kang ora bisa mbales apa نَفْسٌ awak-awakan عَنْ نَفْسٍ saking awak-awakan شَيْئاً ing sewiji-wiji. وَاتَّقُوُا يَوْماً لاَ تَجْزِى نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئاً

 Ta'ribnya :
q
Lafadz لاَ تَجْزِى adalah fi’il mudhore’ mu'tal akhir, I'robnya rafa' karena tidak didahului oleh 'amil nashib ataupun 'amil jazim, tanda rafa'nya dhommah muqoddar (tersembunyi). Dibaca 'kang' karena menjadi sifat ( fi'il jatuh setelah isim nakiroh adalah sifat)
 Untuk Tawabi' yang lain, silahkan melihat kembali penjelasannya pada
v pembahasan al marfu'at (isim-isim yang harus dirafa'kan) Yaitu : 'Athaf, i'robnya mengikuti isim yang di ngathafi. Badal, i'robnya mengikuti isim ysng dibadali, dan Taukid, i'robnya mengikuti yang ditaukidi.

3. MAF’UL LI AJLIH ( المَفْعُوْلُ لأَجْلِهِ )
= Kerana / Karena
Maf’ul liajlih ialah isim masdar qolby yang diletakkan setelah fi’il dan fa’il, untuk menjelaskan 'alasan' mengapa fi’il itu dilakukan, atau untuk menjawab 'pertanyaan untuk apa' fi’il itu dilakukan. Itulah sebabnya Maf’ul liajlih harus cocok diterjemah dengan kerana / karena / sebab / untuk. Isim masdar qolbiy ialah isim masdar yang berkaitan dengan perasaan hati. Perhatikan contoh-contoh dibawah ini :

أَقُوْمُ ngadeg sopo ingsun, إكْراَمًا kerana mulyaake لِلْأُسْتَاذِ maring guru. (Saya berdiri, karena memuliakan terhadap guru) أَقُوْمُ إكْراَمًا لِلْأُسْتَاذِ

جَاهَدْنَا jihad sopo ingsun فِى سَبِيْلِ اللهِ ingdalem dalane Allah خَوْفًا kerana wedi لِسُخْطِهِ maring siksane Alloh (Saya berjihad fi sabilillah karena takut murkaNya) جَاهَدْنَا فِى سَبِيْلِ اللهِ خَوْفًا لِسُخْطِهِ

وَيَعْتِقُlan merdekaake هُمْing deweke kabeh, sapa اَبُوْبَكْرٍAbu bakar, اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ kerana golek maring wajahe Alloh (Abu Bakar memerdekakan mereka, karena mencari wajah Allah) وَيَعْتِقُهُمْ اَبُوْبَكْرٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ

(ضَرَبْتُ) Mukul sapa ingsun (اِبْنِيْ) ing anakingsun (تَأْدِيْبًا) kerana ndidik adab ضَرَبْتُ اِبْنِيْ تَأْدِيْبًا

(جُدْ) Lomaho sapa sira (شُكْرًا) kerana syukur جُدْ شُكْرًا

(وَلاَ تَقْتُلُوا ) Lan aja mateni sapa sira kabeh, (أَوْلاَدَكُمْ) ing anak-anakira kabeh, (خَشْيَةَ إمْلاَقٍ) kerana wedi mlarat. وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ خَشْيَةَ إمْلاَقٍ
Catatan :
1) Setiap kalimah isim mashdar qolbiy yang cocok dibaca kerana / karena, berarti mesti maf’ul liajlih. I’rabnya harus dinasab.
2) Jika isim yang dijadikan maf’ul liajlih bukan isim mashdar qolbiy, maka di depannya harus diberi kharf jar ( لِ ), sehingga maf’ul li ajlih itu harus beri’rob jar.
Contoh :

إِعْمَلُوْا ngamala sapa sira kabeh الْخَيْرَ ing kebagusan لِطَلَبِ مَرْضَاةِ اللهِ kerana golek ridhane Alloh. (Berbuat baiklah kamu semua, untuk mencari ridho Allah). إِعْمَلُوْا الْخَيْرَ لِطَلَبِ مَرْضَاةِ اللهِ

أقِمِ الصَّلاَةَ
لِدُلُوكِ الشَّمْس

هَذَا الرَّجُلُ Utawi iki wong lanang, iku قَنِعَ bisa nrima sapa deweke, لِزُهْدٍ kerana zuhud (Laki-laki ini bisa qona'ah karena zuhud) هَذَا الرَّجُلُ قَنِعَ لِزُهْدٍ
 I’rabnya :
q
• Lafadzأَقُوْم ُ adalah fi’il Mudhore, I'robnya rafa' karena tidak didahului 'amil Nashib ataupun 'amil Jazim. Tanda rafa'nya dhommah. Fa’ilnya dhomir اَنَا .
• Lafadz إكْراَمًا adalah isim mufrod, i’robnya nashab karena menjadi maf’ul liajlih, tanda nashabnya dengan fatkhah.
 I’rabnya :
q
• Lafadz جَاهَدْنَا adalah fi’il madli, mabni sukun karena bertemu dengan nun fa'il (نَا ). fa’ilnya dhomir نَحْنُ
• Lafadz خَوْفًاadalah isim mufrod mudzakkar, beri’rob nashab karena menjadi maf’ul liajlih, tanda nashabnya fatkhah.
4. ISIMNYA إِنَّ ATAU SAUDARA-SAUDARANYA
Inna (إِنَّ) dan saudara-saudaranya, ialah kharf-kharf yang hanya masuk ke dalam jumlah ismiyah. Jadi, apabila ada Inna (إِنّ) atau saudara-saudaranya, disitu mesti permulaan jumlah ismiyah, Dan apabila jumlah ismiyah dimasuki Inna atau saudara-saudaranya, maka terjadi perubahan sebagai berikut :

(1). mubtada'nya berubah menjadi isimnya Inna atau saudaranya, dan harus beri’rob nashab
(2). sedangkan khobarnya tetap rafa’,dinamakan khobarnya Inna. Itulah sebabnya Inna / saudara-saudaranya dinamakan kharf yang menashabkan mubtada’ dan merafa’kan khobar

إِنَّ dan Saudara-saudaranya
Adapun saudara-saudaranya إِنَّ itu ialah :
1 إِنَّ Sesungguhnya 4 لَكِنَّ Akan tetapi/Anging tetapine
2 أَنَّ Sesungguhnya 5 لَيْتَ Muga-muga/Semoga
3 كَأَنَّ Sepertinya 6 لَعَلَّ Semoga/Muga-muga

Fungsi إِنَّ dan Saudara-saudaranya
1) أَنَّ kegunaannya sama dengan إِنَّ , untuk taukid (menguatkan ma’na). Contoh :
إِنَّ اللهَ)) Satemene utawi Allah,عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ) ) ingatase saben-saben sewiji, iku قَدِيْرٌ )) Maha Kuasa (Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu) إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

إِنَّ زَيْدًا ) ) Satemene Utawi Zaid, ikuمُجْتَهِدٌ) ) wong kang rajin (Sesungguhnya Zaid itu orang yang rajin) إِنَّ زَيْدًا مُجْتَهِدٌ
2) لَيْتَ untuk tamanni (mengharap sesuatu yang sulit/tak mungkin tercapainya). Contoh :
( يَالَيْتَنِيْ ) Ee…muga-muga utawi ingsun, iku ( كُنْتُ ) dadi sapa ingsun, dadi iku ( تُرَابًا ) lemah. (Ee..semoga aku menjadi tanah ) يَالَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا

( يَالَيْتَ قَوْمِيْ ) Ee………muga-muga utawi kaumku, iku ( يَعْلَمُوْنَ ) ngerteni sapa deweke kabeh, ( بِمَا ) kelawan apa, ( غَفَرَ ) wus ngapura ( لِيْ ) maring aku, sapa ( رَبِّيْ ) pangeranku, (وَجَعَلَ) lan wus ndadekake sopo pangeranku,( نِيْ ) ing aku, ( مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ ) saking golongane wong-wong kang den mulyaake. (He…Semoga kaumku mengetahui dengan apa Tuhanku mengampuniku dan menjadikan aku sebagian dari orang-orang yang dimuliakan) يَالَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَ بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ
3) La’alla ( لَعَلَّ ) untuk tarajji (mengharap sesuatu yang mungkin tercapainya) Contoh :
(لَعَلَّ السَّاعَةَ) muga-muga utawi dina qiyamat, iku(تَكُوْنُ) dadi opo dina qiyamat, dadi iku (قَرِيْبًا) parek.(Semoga hari qiyamat menjadi dekat ) لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

(لَعَلَّ اللهَ)Muga-muga utawi Allah, iku ( يَرْحَمُ) melasi sapa Allah, ( نَا)ing kita. (Semoga Allah membelas kasihani kepada kita) لَعَلَّ اللهَ يَرْحَمُنَا
4) Lakinna لَكِنَّ untuk istidrok menyelipkan ucapan yang berlawanan). Contoh :
(وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ) Anging tetapine utawi akehe menungsa, iku (( لاَيَشْكُرُوْنَ ora pada syukur sopo deweke kabeh.(Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya) وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُوْنَ

( حَضَرَ ) wus teka, sapa ( ( التَّلاَمِيْذُ murid- murid, ( وَلَكِنَّ زَيْدًا ) anging tetapi utawi Zaid, iku ( ( غَائِبٌwong kang ora ana. (Murid-murid telah datang, akan tetapi Zaid tidak ada) حَضَرَ التَّلاَمِيْذُ وَلَكِنَّ زَيْدًا غَائِبٌ
5) Kaanna (كَأَنَّ) untuk tasybih (menyerupakan). Contoh :
( كَأَنَّ زَيْدًا ) Kaya-kaya setuhune utawi Zaid, iku ( قَمَرٌ ) rembulan (Sungguh, sepertinya Zaid adalah bulan ) كَأَنَّ زَيْدًا قَمَرٌ

(كَأَنَّ الْعِلْمَ)kaya-kaya setuhune utawi ilmu, iku نُوْرٌ ) ) cahaya, ( فِىالْحَيَاةِ ) ingdalem urip iki. (Sepertinya, sungguh ilmu itu adalah cahaya di dalam kehidupan) كَأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ فِى الْحَيَاةِ


Catatan :
إِنَّ dan saudara-saudaranya hanya masuk pada permulaan jumlah / mubtada. Itulah sebabnya jika ada إِنَّatau salah satu dari saudara-saudaranya, berarti mesti mubtada', cuma i'robnya menjadi nashab karena menjadi isimnyaإِنّ atau saudara-saudaranya itu. Kecuali jika kalimah itu berupa jar- majrur, berarti ia khobar muqoddam (khobar yang didahulukan) dan jika khobarnya didahulukan, berarti mubtada' nya / isimnya harus diakhirkan. Contoh :

(إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ) Satemene iku tetep keduwe saben-saben suwiji, (قَلْبًا)ana atine. (وَقَلْبُ الْقُرْآنِ)Lan utawi atine al-Quran, iku ( يس) surat Yaasiiin. (Sesungguhnya setiap sesuatu itu memiliki hati. Dan hatinya al-Quran, adalah surat Yasiin). إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس

(إِنَّ فِيْ ذَلِكَ) saktemene iku tetep ingdalem kang kaya mangkono , (لَاياَتٍ ) yekti ana tanda-tanda kekuasaane Allah, (لِقَوْمٍ) keduwe kaum, (يَعْقِلُوْنَ) kang pada mikir sapa deweke kaum. (Sesungguhnya di dalam yang demikian itu, nyata-nyata ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir) إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَاياَتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ

 I’rabnya :
q
• Lafadz إِنَّadalah kharf yang menashabkan mubtada' dan merafa'kan khobar.
• Lafadz لِكُلِّ adalah jar - majrur. Lafadz شَيْءٍ adalah beri'rab jar karena menjadi mudlof ilaih dari lafadz كُلِّ (mudhof) , tanda jarnya dengan kasroh. Jadi, لِكُلِّ شَيْءٍ adalah rangkaian jar - majrur sekaligus rangkaian mudlof-mudlof ilaih, yang menjadi 'khobar nya إِنَّ yang didahulukan' (khobar muqoddam)
• Lafadz قَلْبًا adalah isim mufrod, beri'rob nashab, karena mubtada' muakhkhor (mubtada' yang diakhirkan dari khobarnya) yang dimasuki إِنَّ .
• Lafadz وَ adalah wawu ibtida', dan lafadz قَلْبُ الْقُرْآنِ adalah rangkaian mudhof - mudhof ilaih, yang menjadi mubtada’
Lafadz قَلْبُadalah isim mufrod mudzakkar, i'robnya rafa' karena sebagai mubtada', tanda rafa'nya dengan dhommah. Sedangkan Lafadz الْقُرْآنِ adalah isim mufrod, i'robnya jar karena mudhof ilaih, tanda jarnya dengan kasroh.
• Lafadz يسberi'rob rafa', karena khobar dari قَلْبُ الْقُرْآنِ

5. KHOBARNYA (كَانَ) ATAU SAUDARA-SAUDARANYA.

Seperti halnya إِنََّ , maka كَانَdan saudara-saudaranya juga hanya masuk pada permulaan jumlah Ismiyah. Sehingga kapan ada كَانَ, di situ mesti permulaan jumlah ismiyah (ada mubtada' dan ada khobar).

A. Yang perlu diperhatikan apabila ada كَانَ
 Apabila
n كَانَ atau salah satu dari saudara-saudaranya masuk pada jumlah ismiyah, maka jumlah ismiyah itu harus mengalami perubahan sebagai berikut :
1) Mubtada pada jumlah itu, berubah menjadi fa'ilnya كَانَ i'robnya tetap rafa', dibaca dengan 'sapa / apa' seperti lazimnya fa'il.
2) Khobar pada jumlah itu, berubah menjadi khobarnya كَانَ , dan i'robnya berubah menjadi nashab, serta dibaca dengan "ana iku / dadi iku" Contoh :
 Sebelum dimasuki
ü كَانَ :
(زَيْدٌ)Utawi Zaid, iku (تِلْمِيْذٌ)murid, (مَاهِرٌ) kang pinter (Zaid adalah seorang murid yang pandai) زَيْدٌ تِلْمِيْذٌ مَاهِرٌ
Setelah dimasuki كَانَ menjadi :
(كَانَ)wus dadi, sopo (زَيْدٌ) Zaid, dadi iku (تِلْمِيْذًا)murid (مَاهِرًا) kang pinter (Zaid menjadi murid yang pandai) كَانَ زَيْدٌ تِلْمِيْذًا مَاهِرًا َ
 Sebelum dimasuki كَانَ :
ü
فَطِيْمَةُUtawi Fatimah, iku تِلْمِيْذَةٌmurid, مُجْتَهِدَة ٌ kang rajin .(Fatimah adalah murid yang rajin) فَطِيْمَةُ تِلْمِيْذَة ٌ مُجْتَهِدَة ٌ
Setelah dimasukiكَانَ menjadi :
(كَانَتْ)Wus dadi, sopo ( فَطِيْمَةُ)Fatimah, dadi iku ( ( تِلْمِيْذَةً murid, (مُجْتَهِدَةً) kang rajin(Fatimah menjadi murid yang rajin) كَانَتْ فَطِيْمَةُ تِلْمِيْذَةً مُجْتَهِدَةً
 Sebelum dimasuki كَانَ
ü
Dia seorang murid (utawi deweke, iku murid) هُوَ تِلْمِيْذٌ
Setelah dimasukiكَانَ menjadi :
Dia seorang murid (utawi deweke, iku murid) كَانَ تِلْمِيْذًا
B. Saudara-saudaranya كَانَ.
Adapun saudara-saudaranyaكَانَ itu ialah :
No Kalimah Contoh
1 كَانَ\يَكُوْنُ كَانَ\يَكُوْنُ زَيْدٌ مَاهِرًا
(كَانَ) ana, sapa (زَيْدٌ) Zaid, ana iku (مَاهِرًا) wong kang pinter (Zaid adalah orang yang pandai)
2 صَارَ\يَصِيْرُ صَارَ\يَصِيْرُ الْمَاءُ ثَلْجًا
Dadi apa (الْمَاءُ) banyu, dadi iku (ثَلْجًا)es (Air itu menjadi es)
3 أصْبَحَ\يُصْبِحُ أصْبَحَ\يُصْبِحُ زَيْدٌ مُعَلِّمًا
(أصْبَحَ\يُصْبِحُ) Dadi sapa (زَيْدٌ) Zaid, dadi iku (مُعَلِّمًا) wong kang mulang (Zaid menjadi pengajar)
4 أَضْحَى\يُضْحِى أَضْحَى\يُضْحِى مُعَلِّمٌ مُصَلِّيًا
(أَضْحَى) mlebu wektu duha, sopo (مُعَلِّمٌ) wong kang mulang, iku (مُصَلِّيًا) wong kang sholat (pengajar itu memasuki waktu duha , menjadi orang yang sholat)
5 ظَلَّ\يَظَلُّ ظَلَّ\يَظَلُّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا
(ظَلّ) dadi, apa (وَجْهُهُ) wajahe, dadi iku (مُسْوَدًّا) ireng. (wajahnya menjadi hitam)
6 أَمْسَى\يُمْسِى أَمْسَى\يُمْسِى زَيْدٌ غَنِيًّا
(أَمْسَى) dadi, sapa (زَيْدٌ) Zaid, dadi iku (غَنِيًّا) wong kang sugih (Zaid menjadi orang yang kaya).
7 بَاتَ\يَبِيْتُ بَاتَ\يَبِيْتُ الْمَطَرُ عَزِيْزًا
(بَاتَ) dadi, apa (الْمَطَرُ) udan, dadi iku (عَزِيْزًا) deres (hujan menjadi lebat)
8 مَا زَالَ\مَا يَزَالُ مَا زَالَ\مَا يَزَالُ زَيْدٌ مُحْسِنًا
(مَا زَالَ\مَا يَزَالُ) ora leren-leren, sapa (زَيْدٌ) Zaid, ora leren-leren iku (مُحْسِنًا) wong kang gawe bagus (Zaid tetap orangyang berbuat baik)
9 مَابَرِحَ\مَايَبْرَحُ مَابَرِحَ\مَايَبْرَحُ زَيْدٌ مُجْتَهِدًا
10 مَاإنْفَكَّ\لاَيَنْفَكُّ مَاإنْفَكَّ\لاَيَنْفَكُّ زَيْدٌ مُحْسِنًا
11 مَافَتِئَ\لاَيَفْتَأُ مَافَتِئَ\لاَيَفْتَأُ زَيْدٌ مُتَأَخِّرًا
12 مَادَامَ اَنَا اُحِبُّ زَيْدًا مَادَامَ مُجْتَهِدًا
13 لَيْسَ لَيْسَ زَيْدٌ مُتَأَخِّرًا

C. Kaidah-kaidahnya كَانَ dan saudara-saudaranya
1) Karena كَانَ dan saudara-saudaranya termasuk kategori fi’il, maka iapun memiliki perubahan seperti fi’il-fi’il yang lain, sesuai dengan dhomir pelakunya.

Bentuk Amar Bentuk Mudhore’ Bentuk Madhi
كُنْ اَنْتَ تِلْمِيْذًا هُوَ يَكُوْنُ تِلْمِيْذًا كَانَ (هُوَ) تِلْمِيْذًا
كُوْنَا اَنْتُمَا تِلْمِيْذَيْنِ هُمَا يَكُوْنَانِ تِلْمِيْذَيْنِ كَانَا(هُمَا)تِلْمِيْذَيْنِ
كُوْنُوْا اَنْتُمْ تِلْمِيْذِيْنَ هُمْ يَكُوْنوُنَ تِلْمِيْذِيْنَ كَانُوْا (هُمْ)تِلْمِيْذِيْنَ
كُوْنِىْ اَنْتِ تِلْمِيْذَةً هِيَ تَكُوْنُ تِلْمِيْذَةً كَانَتْ(هِيَ)تِلْمِيْذَةً
كُوْنَا اَنْتُمَا تِلْمِيْذَتَيْنِ هُمَا تَكُوْنَانِ تِلْمِيْذَتَيْنِ كَانَتَا(هُمَا)تِلْمِيْذَتَيْنِ
كُنَّ اَنْتُنَّ تِلْمِيْذَاتٍ هُنَّ يَكُنَّ تِلْمِيْذَاتٍ كُنّ (َهُنَّ)تِلْمِيْذَاتٍ
Dst. Dst.

2) Untuk كَانَ dan saudara-saudaranya yang bisa ditashrif, (memiliki bentuk mudhore', amar, mashdar dan seterusnya sesuai dengan tashrifannya) maka semua tashrifannya itu juga memiliki fungsi dan tugas yang sama dengan كَان (dalam hal merafa’kan isimnya dan menasabkan khobarnya) Contoh :
(وَاللهُ )Utawi Allah, iku (يَجِبُ) wajib, apa ( كَوْنُه) anane Allah, ana iku (عَالِمًا) Dzat kang pinter (Allah itu, wajib keberadaannya, sebagai Dzat yang Maha Mengetahui) وَاللهُ يَجِبُ كَوْنُهُ عَالِمًا

6. MASHDAR / MAF’UL MUTHLAQ
(kelawan)

A. Pengertian Mashdar / Maf’ul Muthlaq
Mashdar ialah isim beri’rab nashab yang diletakkan setelah fi’il, dimana isim itu memiliki asal kata / asal ma’na yang sama dengan fi’il itu. Mashdar biasanya dibaca /diterjemahkan dengan ‘KELAWAN / DENGAN’.

B. Fungsi Mashdar dan Contoh-contohnya

Adapun penyebutan mashdar itu, dimaksudkan untuk :

1) Taukid (menguatkan terjadinya perbuatan / fi’il). Misalnya :
(ضَرَبَ) Wis mukul, sapa (زَيْدٌ) Zaid, (عُمَرًا) ing Umar, (ضَرْبًا) kelawan pukulan. (Zaid telah memukul Umar dengan pukulan) ضَرَبَ زَيْدٌ عُمَرًا ضَرْبًا

2) Menjelaskan jenis perbuatan .Misalnya :
(ضَرَبَ)Wis mukul, sapa (زَيْدٌ)Zaid, (عُمَرًا) ing Umar, (ضِرْبَةَ) kelawan pukulane kethek. (Zaid telah memukul Umar dengan pukulan kera) ضَرَبَ زَيْدٌ عُمَرًا ضِرْبَةَ الْقِرْدِ

3) Menjelaskan jumlah (banyak / sedikitnya) perbuatan. Misalnya :
(ضَرَبَ)Wis mukul, sapa (زَيْدٌ) Zaid, (عُمَرًا) ing Umar, (ضَرْبَةً) kelawan sak pukulan / rong pukulan.
(Zaid telah memukul Umar dengan satu pukulan / dua pukulan) ضَرَبَ زَيْدٌ عُمَرًا ضَرْبَةً \ضَرْبَتَيْنِ

 Tarkib :
q
• Lafadz ضَرْبًا adalah isim mufrod yang beri’rob nashab karena menjadi mashdar, yang fungsinya untuk taukid (menguatkan terjadinya perbuatan / fi’il). Tanda nashabnya fatkhah.
• Lafadz ضِرْبَةَ adalah isim mufrod muannats, i’robnya nashab karena menjadi mashdar (yang menjelaskan jenis fi’il). Tanda nashabnya fatkhah.
• Lafadz ضَرْبَةً adalah isim mufrod muannats, i’robnya nashab karena menjadi mashdar (yang menjelaskan bilangan fi’il). Tanda nashabnya fatkhah.
Catatan :
Kalimah-kalimah yang digaris bawahi pada contoh-contoh diatas, memiliki asal kata yang sama dengan fi’il yang sebelumnya. Lafadz ضَرْبًا,asal katanya sama dengan asal kata dari fi’il ضَرَبَ Lafadz ضِرْبَةَ juga asal katanya sama dengan fi’il ضَرَبَ .Dan lafadz ضَرْبَةً asal katanya juga sama dengan fi’il ضَرَبَ. Berarti, kalimah-kalimah itu menduduki posisi Mashdar, yang harus dinashab dan dibaca ‘kelawan / dengan’.

C. Macam-macam Mashdar

1. Mashdar Lafdziy.
Ialah mashdar, yang asal lafadznya, sama dengan asal lafadz fi’ilnya. Lihat contoh-contoh mashdar di atas !
2. Mashdar Ma’nawiy.
Ialah jika antara mashdar dan fi’ilnya, hanya memiliki kesamaan ma’na saja, tidak memiliki kesamaan lafadz.
Contoh :

( جَلَسْتُ) wis lungguh sapa ingsun, ( قُعُوْدًا ) kelawan lungguh temenanan. (saya telah benar-benar duduk) جَلَسْتُ قُعُوْدًا

( قُمْتُ ) wis ngadeg sapa ingsun, ( وُقُوْفًا ) kelawan ngadeg temenanan. (saya benar-benar telah berdiri) قُمْتُ وُقُوْفًا

D. Kaidah-kaidah Mashdar
1. Harus Nashab.Lihat contoh-contoh di atas !
2. Harus cocok diterjemah dengan : kelawan / dengan

7. KHAL (اَلْحَالُ )
(dibaca dengan : khale / dalam keadaan)
A. Pengertian Khal
Ialah isim beri’rab nashab, yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan fa’il, atau keadaan maf’ul, atau keadaan dari fail dan maf’ul sekaligus, ketika terjadinya perbuatan. Khal biasanya diterjemah dengan ‘KHALE / DALAM KEADAAN/ PADA HAL’. Contoh :
Khal yang menjelaskan keadaan Fa’il.
(ذَهَبَ) Lunga, sapa (عُمَرٌ) Umar, (اِلَى مَدْرَسَتِهِ)maring maring sekolahane, (مَاشِيًا) khale wong kang mlaku (Umar berangkat ke sekolah dalam keadaan orang yang berjalan) ذَهَبَ عُمَرٌ اِلَى مَدْرَسَتِهِ مَاشِيًا

( ذَهَبَتْ ) Lunga, sapa ( فَطِيْمَةُ)Fathimah, (اِلَىمَدْرَسَتِِهَا)maring maring sekolahane, (مَاشِيَةً) khale wong kang mlaku (Fathimah berangkat ke sekolahnya dalam keadaan orang yang berjalan) ذَهَبَتْ فَطِيْمَةُ اِلَى مَدْرَسَتِهَا مَاشِيَةً

Khal yang menjelaskan keadaan maf’ul bih
(رَكِبْتُ)Numpak sapa ingsun, (الْفَرْسَ) ing jaran (مُسَرَّجًا) khale den pelanani (Saya menaiki kuda dalam keadaan berpelana) رَكِبْتُ الْفَرْسَ مُسَرَّجًا

(اَكَلْتُ) Mangan sapa ingsun, (الْفَاكِهَةَ) ing buah, (نَاضِجَةً) khale mateng (saya makan buah dalam keadaan masak) اَكَلْتُ الْفَاكِهَةَ نَاضِجَةً
 Tarkib :
q
• Lafadz ذَهَبَ adalah fi’il madhi, I'robnya mabni fatkhah sebab tidak bertemu dengan wawu jama', tak fa'il, nun fa'il, dan nun niswah.
• Lafadz عُمَرٌadalah isim mufrod, beri’rab rafa’, karena menjadi fa’ilnya lafadz ذَهَبَ ,tanda rafa’nya dhommah.
• Lafadz اِلَى adalah kharf jar ( mengjarkan isim )
• Lafadz مَدْرَسَتِهِadalah dua kalimah yang dirangkai menjadi satu (mudhof dan mudhof ilaih). Lafadz مَدْرَسةِ(mudhof) adalah isim mufrod muannats i’rabnya jar, karena didahului oleh kharf jar اِلَى Dan lafadz هِ (mudhof ilaih), adalah isim dhomir muttashil, i’rabnya jar karena mudhof ilaih, tandanya mabni.
• Lafadz مَاشِيًا adalah isim mufrad mudzakkar, i’rabnya nasab karena menjadi khal, tanda nasabnya dengan fatkhah.

B. Kaidah-kaidah yang berkaitan dengan Khal

1. Isim yang diberi khal dinamakan shohibul khal, dan harus isim ma’rifat (lihat contoh-contoh di atas).
2. Khal harus isim nakiroh. Seandainya khal berupa isim ma’rifat, maka harus isim ma’rifat yang memiliki sinonim dengan isim nakiroh. Misalnya :
( اِجْتَهِدْ ) temen-temena sapa sira, ( وَحْدَكَ ) khale ijenira. (Bersungguh-sungguhlah engkau, dalam keadaan sendirian).
 Lafadz (وَحْدَكَ), walaupun isim ma’rifat, tapi sinonim dengan lafadz
v (مُنْفَرِدًا) yang isim nakiroh. Sehingga bisa menjadi khal. اِجْتَهِدْ وَحْدَكَ = اِجْتَهِدْ مُنْفَرِدًا
3. Adakalanya, khal berupa jumlah. (baik jumlah ismiyah ataupun jumlah fi’liyah)
• Khal jumlah ismiyah, biasanya dibantu dengan وَ (wawu khal). Misalnya :
( اُصَلِّى ) Sholat sapa ingsun , ( وَالنَّاسُ ) khale utawi menungsa iku ( يَنَامُوْنَ ) lagi pada turu (Saya melakukan sholat, dalam keadaan orang-orang sedang tidur) اُصَلِّى وَالنَّاسُ يَنَامُوْنَ
 Lafadz النَّاسُ
q adalah mubtada’, sedangkan lafadz يَنَامُوْنَ adalah khobar. Jadi, susunan النَّاسُ يَنَامُوْنَ adalah jumlah ismiyah (mubtada’ dan khobar), yang disini menduduki posisi khal dari dhomir (اَنَا ) yang menjadi fa’il dari fi’il mudhore’اُصَلِّى. Sedangkan huruf وَ yang ada pada awal jumlah, dinamakan wawu khaliyah (yang dibaca KHALE)
• Khal jumlah fi’liyah, Misalnya :
(رَاَيْتُ) Ningali sapa ingsun, (زَيْدًا) ing Zaid, (يَقُوْمُ) khale lagi ngadek sapa Zaid (Saya melihat Zaid dalam keadaan sedang berdiri) رَاَيْتُ زَيْدًا يَقُوْمُ

(سَمِعْتُ) Ngrungu sapa ingsun, (رَسُوْلَ اللهِ ) ing Rasulullah Saw. (يَقُوْلُ) Khale lagi ngendika sapa Rasulullah Saw. (Saya mendenganr Rasulullah Saw. Dalam keadaan beliau bersabda) سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ
 I’rabnya :
q
• Lafadz يَقُوْمُadalah fi’il mudhore’. Fa’ilnya dhomirهُوَ yang tersimpan di dalam fi’il mudhore’ itu. Jadi, lafadz يَقُوْمُ pada hakekatnya adalah jumlah fi’liyah ( fi’il dan fa’il ) , yang menduduki posisi khal.
4. Setiap fi’il yang jatuh setelah isim ma’rifat, dan setelah jumlah sempurna, maka fi’il itu menjadi khal. Lihat dua contoh terakhir di atas !
8. TAMYIZ ( اَلتَّمْيِيْزُ)
( dibaca dengan : Apane )
A. Pengertian Tamyiz
Tamyiz ialah isim yang beri’rob nashab, yang disebutkan untuk menerang kan jenis, ukuran, timbangan, atau bilangan yang masih samar dan butuh diterangkan. Tamyiz biasa dibaca dengan ‘APANE’, dan isim/fi’il yang ditamyizi disebut dengan Mumayyaz.
B. Kaidah yang berkaitan dengan Tamyiz.
1. Tamyiz harus isim Nakiroh.
2. Tamyiz harus diletakkan setelah kalam sempurna (jika f’il, telah ada fa’ilnya, atau jika mubtada’ telah ada khobarnya)
C. Macam-macam Tamyiz dan Contoh-contohnya
1. Tamyiz yang menjelaskan bilangan. Misalnya :

(اِشْتَرَيْتُ)Wus tuku sapa ingsun, (عَشْرًا) ing 10, apane(كِتَابًا) kitabe (Saya telah membeli 10 buku) اِشْتَرَيْتُ عَشْرًا كِتَابًا

(فَجَهَّزَ) Banjur nyiapake, sapa (اَبُوْبَكْرٍ) Abu bakar, nyiapake ing (اَحَدَ عَشَرَ) sewelas, apane (لِوَاءً) pasukane, (لِقِتَالِ الْمُرْتَدِّيْنَ) kanggo merangi maring wong-wong kang pada murtad. (Maka Abu bakar menyiapkan sebelas pasukan untuk memerangi orang-orang yang murtad itu) فَجَهَّزَ اَبُوْبَكْرٍ اَحَدَ عَشَرَ لِوَاءً لِقِتَالِ الْمُرْتَدِّيْنَ

2. Tamyiz yang menjelaskan ukuran / timbangan. Misalnya

(لَكَ) Iku tetep keduwe sira, (صَاعٌ) utawi sak sho', apane (قَمْحًا) gandume (Untukmu, satu sho' gandum) لَكَ صَاعٌ قَمْحًا

(اِشْتَرَيْتُ) Tuku sapa ingsun, (مِائَةَ قَصَبٍ) ing satus jengkal, apane ( اَرْضًا) lemahe. (Aku membeli 100 jengkal tanah) اِشْتَرَيْتُ مِائَةَ قَصَبٍ اَرْضًا

3. Tamyiz yang menjelaskan keberadaan. Misalnya :

(تَصَبَّبَ) Mili-mili, sapa (زَيْدٌ) Zaid, apane (عَرَقًا) keringete (Zaid bertetesan keringatnya) تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا

(زَيْدٌ) Utawi Zaid, iku (اَحْسَنُ) luwih bagus (مِنْكَ) tinimbangane sira, (خُلُقًا)apane akhlaqe (Zaid lebih bagus ketimbang kamu akhlaqnya) زَيْدٌ اَحْسَنُ مِنْكَ خُلُقًا


9. DZOROF / MAF’UL FIH
(dibaca dengan : ingdalem)

A. Pengertiannya.
Ialah isim Zaman atau isim Makan yang beri’rab nashab, yang diletakkan dibelakang fi’il, untuk menerangkan waktu atau tempat terjadinya fi’il tersebut, sehingga dzorof selalu menyimpan فِىْ )) dalam pemaknaannya. Dalam bahasa Indonesia, dzorof disebut dengan keterangan tempat (dzorof makan) atau keterangan waktu (dzorof zaman). Itulah sebabnya dalam penerjemahan bahasa Jawa, dzorof diterjemah dengan : ingdalem…………………
Contoh :
(رَاَيْتُ) ningali sapa ingsun, (زَيْدًا) ing Zaid, (يَوْمَ الإِثْنَيْنِ) ingdalem dina Senin, (اَمَامَ الْمَسْجِدِ) ingdalem ngarepe masjid (Saya melihat Zaid, di hari Senin, di depan masjid) رَاَيْتُ زَيْدًا يَوْمَ الإِثْنَيْنِ اَمَامَ الْمَسْجِدِ

(ضَرَبَ) wus gebug, sapa (زَيْدٌ) Zaid, (كَلْبًا) ing asu, (اَمَامَ بَيْتِهِ ) ingdalem ngarep omahe Zaid, (يَوْمَ الْجُمْعَةِ) ingdalem dina Jum’at. (Zaid telah memukul anjing di depan rumahnya, di hari Jum’at) ضَرَبَ زَيْدٌ كَلْبًا اَمَامَ بَيْتِهِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ

(يَزُوْر)bakal niliki, sapa (زَيْدٌ) Zaid, (اَبَاهُ) ing bapake Zaid, (غَدًا) ingdalem wektu sesuk. (Zaid akan mengunjungi bapaknya besuk) يَزُوْرُ زَيْدٌ اَبَاهُ غَدًا

(ذَهَبْتُ) berangkat sapa ingsun, (إِلَى الْمَدْرَسَةِ) maring sekolahan, (صَبَاحًا) ingdalem wektu esuk (aku berangkat ke sekolah di waktu pagi) ذَهَبْتُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ صَبَاحًا

(جُلُوْسُكَ) utawi lungguhira, (سَاعَةً) ingdalem wektu sak jam, (فِى مَجْلِسِ الْعِلْمِ) ingdalem majlis ilmu, iku (خَيْرٌ ) luwih bagus (مِنْ عِتْقِ اَلْفِ رَقِيْقٍ) tinimbangane merdikakake sewu budak (dudukmu selama satu jam di majlis ilmu itu lebih baik daripada memerdekakan seribu budak) جُلُوْسُكَ سَاعَةً فِى مَجْلِسِ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ عِتْقِ اَلْفِ رَقِيْقٍ

Kalimah-kalimah yang digaris bawahi pada contoh-contoh di atas, semua beri’rab nashab, karena menduduki posisi maf’ul fih (dzorof)

B. Macam-macam isim dzorof
1. Macam-macam Isim Dzorof Zaman
Arti Isim Dzorof
Ingdalem dina iki / di hari ini الْيَوْمَ
Ingdalem bengi iki / di malam ini اللَّيْلَةَ
Ingdalem wektu esuk / di waktu pagi غَدْوَةً
Ingdalem wektu esuk / di waktu pagi بُكْرَةً
Ingdalem wektu sahur / di waktu sahur سَحْرًا
Ingdalem dina sesuk / besuk غَدًا
Ingdalem wektu sore / di sore hari عَتَمَةً
Ingdalem wektu esuk / di pagi hari صَبَاحًا
Ingdalem wektu sore / di waktu sore مَسَاءً
Ingdalem sak lawase / selama-lamanya اَبَدًا / اَمَدًا
Ingdalem siji wektu / di satu waktu حِيْنًا
2. Macam-macam Isim Dzorof Makan
Arti Isim Dzorof
Ingdalem ngarepe / di depan وكانَ أَمَامَهُمْ مَلِكٌ اَمَامَ
Ingdalem burine / di belakang خَلْفَ
Ingdalem ngarepe / di depan قُدَامَ
Ingdalem burine / di belakang وكانَ ورَاءَهُمْ مَلِك وَرَاءَ
Ingdalem duwure / di atas وفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيم فَوْقَ
Ingdalem ngisore / di bawah فَنَادَاها مَنْ تَحْتَهَا تَحْتَ
Ingdalem sandinge / di dekat عِنْدَ
Ingdalem sartane / bersama-sama مَعَ
Ingdalem ngarepe / di depan اِزَاءَ
Ingdalem penere / selurus حِذَاءَ
Ingdalem arahe / searah تِلْقَاءَ
Ing kene / di sini هُنَا
Ing kono / di sana ثَمَّ
C. Kaidah-kaidah Maf’ul Fih ( Isim Dzorof )
1. Maf’ul fih / dzorof ( yang harus dinashab dan dibaca ingdalem ), mesti berupa isim-isim dzorof ( baik dzorof Zaman maupun dzorof Makan ). Akan tetapi tidak semua isim dzorof harus dinashab, karena tidak semua isim dzorof menduduki posisi maf’ul fih.
2. Harus cocok dibaca dengan ingdalem .

10. MUNADA IDHOFAH
A. Pengertian Munada
Ialah isim yang di depannya ada salah satu dari harf nida’
( kata panggil ) yaitu : اَيْ , اَ , اَيَا , هَيَا , آ , يَا , وَا .
Jadi, Munada ialah isim yang dipanggil.
B. Macam-macam Munada dan Hukumnya
Munada ada 5 macam, yaitu :
(1) Munada Mufrad ‘Alam. (2) Munada Nakirah Maqshudah. (3) Munada Nakirah ghoiru maqshudah. (4) Munada Mudhof. (5) Munada syibhil mudhof.
Keterangan :
1. Munada Mufrad ‘Alam. Ialah munada yang berupa : nama-nama yang hanya terdiri dari satu isim (walaupun, mungkin isim itu isim tatsniyah / isim jama’) , bukan nama yang terdiri dari mudhof dan mudhof ilaih. Hukumnya wajib rafa’ sesuai dengan tanda rafa’nya m
2. asing-masing, tetapi tidak boleh ditanwin. Misalnya :
يَا فَطِيْمَاتُ يَا مُحَمَّدُ , يَا فَطِيْمَةُ , يَا عُمَرُ , يَا مُحَمَّدَانِ , يَا مُحَمَّدُوْنَ ,
3. Munada Nakirah Maqshudah. Ialah munada yang berupa : isim nakiroh, dan isim nakiroh itu memang yang dimaksudkan untuk dipanggil. Hukumnya wajib rafa’. Misalnya :
يَا رَجُلُ , يَا مَرْاَةُ , يَا غُلاَمُ , يَا صَبِيُّ
(ketika memanggil orang-orang yang tidak diketahui nama-namanya)
4. Munada Nakiroh Ghoiru Maqshudah. Ialah munada yang berupa : isim nakiroh yang tidak dimaksudkan untuk dipanggil. I’robnya harus nashab. Misalnya ucapan orang buta :
يَا رَجُلاً خُذْ بِيَدِيْ !
5. Munada Mudhof. Yaitu munada yang berupa : rangkaian mudhof dan mudhof ilaih. Munada ini irobnya wajib Nashab.
Misalnya :
يَا رَسُوْلَ اللهِ , يَا نُوْرَ الْعَيْنِ , يَا اَبَا بَكْرٍ , يَا مُسْلِمِي اِنْدُوْنِيْسِيَا
6. Munada Syibhil Mudhof (serupa mudhof). Munada ini I’robnya wajib nashab. Misalnya :
يَا طَالِعًا جَبَلاً = wahai orang meneliti gunung !
يَا كَرِيْمًا خُلُقُهُ = wahai orang yang mulia akhlaqnya !
يَا فَاعِلاً شَرًّا = wahai pelaku kejahatan !
Semua kalimah yang digaris bawahi pada contoh-contoh diatas, adalah kalimah-kalimah yang menjadi Munada (yang dipanggil). Adapun Munada yang termasuk manshubat (harus dinashab) adalah Munada no 4 dan no 5.

Munada’
Wajib Dhommah tanpa tanwin Wajib Nashab
Mufrod ‘Alam

يَا مُحَمَّدُ
Nakiroh Maqshudah

يَا رَجُلُ
Nakiroh ghoiru Maqsudah

يَا رَجُلاً خُذْ بِيَدِيْ

Mudhof


يَا رَسُوْلَ الله Serupa Mudhof

يَا طَالِعًا جَبَلاً


11. MUSTATSNA BI ILLA
A. Pengertiannya.
Membicarakan mustatsna bi illa, mau tidak mau kita harus membicarakan pula kalam Istitsna’. Yaitu kalam yang di dalamnya terdapat (1)اَدَاةُ اْلإسْتِثْنَاءِ (alat untuk mengecualikan), (2) اَلْمُسْتَثْنَى (yang dikecualikan), dan (3) اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ (yang darinya dikecualikan). Misalnya :
(حَضَرَ) wus hadir, sapa (التَّلاَمِيْذُ) murid-murid, (زَيْدًا اِلاَّ) kejaba Zaid. (Murid-murid telah datang kecuali Zaid) حَضَرَ التَّلاَمِيْذُ اِلاَّ زَيْدًا

(لاَاِلهَ) Ora ana pangeran (اِلاَّ الله) kejaba Allah (Tidak ada tuhan kecuali Allah) لاَاِلهَ اِلاَّ الله ُ

Keterangan :
• Lafadz التَّلاَمِيْذُ adalah اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ (yang darinya dikecualikan)
Lafadz اِلاَّ adalah اَدَاةُ اْلإسْتِثْنَاءِ (alat untuk mengecualikan).
Dan Lafadz زَيْدًا adalah اَلْمُسْتَثْنَى (yang dikecualikan).
• Lafadz لاَاِلهَadalah اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ (yang darinya dikecualikan).
Lafadz اِلاَّ adalah اَدَاةُ اْلإسْتِثْنَاءِ (alat untuk mengecualikan).
Dan lafadz الله adalah اَلْمُسْتَثْنَى (yang dikecualikan).
 Jadi,
q اَلْمُسْتَثْنَى ialah isim yang jatuh setelah اَدَاةُ اْلإسْتِثْنَاءِ dan isim yang sebelum اَدَاةُ اْلإسْتِثْنَاءِ , dinamakan اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ
B. Macam-macam alat untuk mengecualikan.
Selainاِلاَّ yang biasa digunakan untuk mengecualikan ada 8 yaitu :
Selain =خَلاَ Kecuali =سَوَاءَ Kecuali = اِلاَّ
Selain =حَاشَا غَيْرُ = selain/bukan Kecuali = سِوَى
Selain = عَدَا Kecuali =سُوَى
C. Macam-macam Mustatsna (yang dikecualikan)
Mustatsna ada 2 macam, yaitu :
1. Mustatsna Muttashil. Ialah, apabila mustatsna sejenis dengan Mustatsna Minhunya. Misalnya :
(رَاَيْتُ) wus ningali sapa ingsun, (اْلاَسَاتِيْذَ) ing pira-pira guru, sun tingali (هُمْ) utawi deweke kabeh, iku (قَدْ اِجْتَمَعُوْا) temen-temen wus kumpul sapa deweke kabeh, (فِى الْمَدْرَسَة) ingdalem sekolahan, (اِلاَّخَالِدًا) kejaba Khalid. (Saya melihat, guru-guru telah berkumpul di sekolahan, kecuali Khalid) رَاَيْتُ اْلاَسَاتِيْذَ هُمْ قَدْاِجْتَمَعُوْا فِى الْمَدْرَسَةِ اِلاَّخَالِدًا
 Jika kita perhatikan خَالِدًا (mustatsna), maka kita menemukan adanya
q kesamaan jenis dengan اْلاَسَاتِيْذَ (mustatsna minhu). Jadi, mustatsna dalam jumlah ini, adalah mustatsna muttashil.

(جَاءَ) wus teka, sapa (الْمُسَافِرُوْنَ) wong-wong kang pada lelungan, (اِلاَّ زَيْدًا) kejaba Zaid (Para musafir telah datang, kecuali Zaid) جَاءَ الْمُسَافِرُوْنَ اِلاَّ زَيْدًا
 Jika kita perhatikanزَيْدًا
q sebagai Mustatsna, maka kita temukan ia sejenis dengan الْمُسَافِرُوْنَ yang menjadi Mustatsna Minhunya. Berarti Mustatsna dalam jumlah ini, juga muttashil.

2. Mustatsna Munqothi’. Ialah apabila Mustatsna, tidak sejenis dengan Mustatsna minhunya. Misalnya :
(اِحْتَرَقَتْ) wus kobong apa (الدَّارُ) omah, (اِلاَّ الْكُتُبَ) kejaba buku-buku iku. (rumah itu telah terbakar, kecuali buku-buku itu) اِحْتَرَقَتْ الدَّارُ اِلاَّ الْكُتُبَ

(قَدِمَ) wus teka sapa (الْحُجَّاجُ) para jama’ah haji ( اِلاَّ) kejaba ( اَمْتِعَتَهُمْ) barang-barange deweke kabeh. (Jama’ah haji telah dating, kecuali barang-barang mereka) قَدِمَ الْحُجَّاجُ اِلاَّ اَمْتِعَتَهُمْ

Perhatikan kalimah الْكُتُبَ dan اَمْتِعَةَ yang kedudukannya sebagai mustatsna pada kedua contoh di atas, maka keduanya tidak sejenis dengan الدَّارُ dan الْحُجَّاجُ sebagai mustatsna minhunya. Berarti, kedua jumlah di atas, mustatsnanya munqothi’

D. Hukum Mustatsna bi illa yang Muttashil
Isim yang dikecualikan dengan اِلاَّ , memiliki 3 I’rob, yakni :
1. Mustatsna wajib nashab. Yaitu apabila jumlahnya berupa Jumlah Tam Mujib (yaitu jumlah yang sempurna, dan tidak diawali dengan Nafi atau Nahi). Lihat contoh-contoh diatas.
2. Mustatsna boleh nashab, dan boleh mengikuti i’rob dari mustatsna minhunya (menjadi badal). Yaitu apabila jumlahnya berupa Jumlah Tam Manfiy (yaitu jumlah yang sempurna, akan tetapi didahului oleh harf Nafi / Nahi / istifham) . Misalnya :
(مَا جَاءَ) ora teka, sapa (التَّلاَمِيْذُ) murid-murid, (اِلاَّ) kejaba, (زَيْدًا) Zaid (murid-murid tidak datang, kecuali Zaid) مَا جَاءَ التَّلاَمِيْذُ اِلاَّ زَيْدًا
مَا جَاءَ التَّلاَمِيْذُ اِلاَّ زَيْدٌ
(لاَ يَنْجَحُ) ora lulus, sapa (التَّلاَمِيْذُ) murid-murid, (اِلاَّ الْمُجْتَهِدُ) kejaba murid kang sregep (murid-murid tidak lulus, kecualimurid yang rajin) لاَ يَنْجَحُ التَّلاَمِيْذُ اِلاَّ الْمُجْتَهِدُ
لاَ يَنْجَحُ التَّلاَمِيْذُ اِلاَّ الْمُجْتَهِدَ
(مَا مَرَرْتُ) ora ngliwati sapa ingsun (بِالْقَوْمِ) ing siji kaum, (اِلاَّزَيْدًا) kecuali Zaid (saya tidak melewati kaum, kecuali Zaid) مَا مَرَرْتُ بِالْقَوْمِ اِلاَّزَيْدًا \زَيْدٍ

3. I’rob mustatsna wajib mengikuti ‘amil yang sebelumnya. Yaitu apabila jumlahnya berupa jumlah naqish (tidak disebutkan mustatsna minhunya). Misalnya :

(مَا قَامَ) ora ngadeg sapa (اِلاَّ زَيْدٌ) kejaba Zaid (tidak ada yang berdiri kecuali Zaid) مَا قَامَ اِلاَّ زَيْدٌ

(مَارَاَيْتُ) ora ningali sapa ingsun, (اِلاَّزَيْدًا) kejaba ing Zaid (saya tidak melihat, kecuali Zaid) مَارَاَيْتُ اِلاَّزَيْدًا

(مَامَرَرْتُ) ora ketemu sapa ingsun, (اِلاَّبِزَيْد) kejaba kelawan Zaid (saya tidak bertemu kecuali dengan Zaid) مَامَرَرْتُ اِلاَّبِزَيْدٍ

E. Hukum Mustatsna bi illa yang munqothi’
Mustatsna Munqothi’, I’robnya selalu nashab. Baik jumlahnya tam (sempurna) atau tidak, ataupun didahului Nafi atau tidak.
Contoh : Lihat contoh mustatsna munqothi’ di atas, dan juga contoh di bawah ini ! dan Perhatikan Mustatsnanya !
(مَالَهُمْ) ora ana tumrap deweke kabeh (بِهِ) kelawan iki perkara , (مِنْ عِلْمٍ) saking pengertian (اِلاَّاتِّبَاعَ الظَّنِّ) kejaba nuruti maring penyana (tidak ada bagi mereka dengan hal itu dari pengertian, kecuali mengikuti persangkaan) مَالَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ اِلاَّاتِّبَاعَ الظَّنِّ

F. Hukum Mustatsna dengan menggunakan غَيْرُ , سِوَي , سُوَى سَوَاءَ , خَلاَ , عَدَا , حَاشَا
Mustatsna dengan menggunakan adat-adat istitsna ini, memiliki 3 hukum I’rob, yaitu :
1. dii’robi Jar, karena mustatsna dianggap sebagai mudhof ilaih dari alat-alat istitsna ( غَيْرُ , سِوَي , سُوَى سَوَاءَ , خَلاَ , عَدَا , حَاشاَ ). Misalnya:

(جَاءَ) wus teka (نِىْ) ing ingsun, sapa (الْقَوْمُ) kaum, (غَيْرَزَيْدٍ ) sakliyane Zaid (telah datang kepadaku kaum, selain Zaid) جَاءَنِىْ الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدٍ
Artinya sama dengan diatas جَاءَنِىْ الْقَوْمُ سِوَي زَيْدٍ
Artinya sama dengan diatas جَاءَنِىْ الْقَوْم ُسُوَى زَيْدٍ
Artinya sama dengan diatas جَاءَنِىْ الْقَوْم ُسَوَاءَ زَيْدٍ
2. Khusus pada alat istitsna خَلاَ , عَدَا , حَاشَا, maka disamping mustatsnanya dibaca jar, boleh juga ia dibaca nashab, karena dianggap sebagai maf’ul bih dari alat-alat istitsna itu. Karena ada yang memasukkan alat-alat istitsna ini kedalam kategori fi’il ( bukan kharf ), sehingga mustatsna menjadi maf’ul bihnya. Contoh :

(جَاءَ) wus teka (نِىْ) ing ingsun, sapa (الرِّجَالُ) wong lanang akeh (خَلاَ زَيْدٍ)sakliyane Zaid / (خَلاَ زَيْدًا) nyulayani ing Zaid (telah datang kepadaku banyak laki-laki, selain Zaid) جَاءَنِىْ الرِّجَالُ خَلاَ زَيْدٍ \ خَلاَ زَيْدًا

Artinya sama dengan yang diatas جَاءَنِىْ الرِّجَالُ عَدَا زَيْدٍ \ زَيْدًا
Artinya sama dengan yang diatas جَاءَنِىْ الرِّجَالُ حَاشَا زَيْدٍ \ زَيْدًا

3. Bahkan Mustatsnanya خَلاَ dan عَدَا wajib nashab, apabila خَلاَ dan عَدَا dimasuki oleh مَا masdariyah (selagine). Karena disini, keduanya adalah fi’il, sehingga mustatsnanya dijadikan maf’ul bihnya. Misalnya :

(جَاءَ) wus teka (نِىْ) ing ingsun, sapa (الرِّجَالُ) wong-wong lanang, (مَاخَلاَ) selagine nyulayani (زَيْدًا) ing Zaid (telah datang kepadaku banyak laki-laki, selagi bukan Zaid) جَاءَنِىْ الرِّجَالُ مَاخَلاَ زَيْدًا
Sda جَاءَنِىْ الرِّجَالُ مَاعَدَا زَيْدًا

F. Adapun I’robnya lafadz غَيْرُ, sama dengan i’robnya “mustatsna dengan اِلاَّ “. Yaitu :
1. Harus nasab apabila kalamnya, kalam tam mujib. Perhatikan contoh di bawah ini dengan seksama !

جَاءَنِىْ الْقَوْمُ اِلاَّ زَيْدًا = جَاءَنِىْ الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدٍ
2. Boleh nasab dan boleh rafa’, apabila kalamnya tam manfiy. Contoh :
مَاجَاءَنِىْ الْقَوْمُ غَيْرَزَيْدٍ\غَيْرُزَيْدٍ =مَاجَاءَنِىْ الْقَوْمُ اِلاَّ زَيْدًا \اِلاَّ زَيْدٌ
3. Mengikuti ‘amilnya (bisa rafa’, bisa nasab, dan bisa jar), apabila kalamnya berupa kalam Naqish (tidak disebut mustatsna minhunya). Misalnya :
(مَا قَامَ) ora ngadeg, sapa (غَيْرُ زَيْدٍ) sakliyane Zaid مَا قَامَ غَيْرُ زَيْدٍ = مَا قَامَ اِلاَّ زَيْدٌ
(مَارَاَيْتُ) ora ningali sapa ingsun, ( غَيْرَ زَيْدٍ) ing sakliyane Zaid مَارَاَيْتُ غَيْرَزَيْدٍ = مَارَاَيْتُ اِلاَّ زَيْدًا
(مَامَرَرْتُ) ora ngliwati sapa ingsun, (بِغَيْرِ زَيْدٍ) kelawan sak liyane Zaid مَامَرَرْتُ بِغَيْرِزَيْد ٍ= مَامَرَرْتُ اِلاَّ بِزَيْدٍ

I’ROB MUSTATSNA
dengan illa dengan ghoiru,siwa,suwa dan sawa-a dengan kholaa, ‘adaa dan khasyaa

Harus Nasab, bila kalamnya : Tam Mujab
جَاءَ الْقَوْمُ اِلاَّ زَيْدًا
Boleh Nasab atau Rafa’, bila kalamnya: Tam Manfiy
مَا جَاءَ الْقَوْمُ اِلاَّ زَيْدًا \زَيْدٌ
Ikut ‘amilnya, bila kalamnya : Naqish
مَا جَاءَ اِلاَّ زَيْدٌ
Harus selalu Jar, apapun kalamnya
جَاءَ الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدِ
مَاجَاءَ الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدِ
مَاجَاءَ غَيْرُ زَيْدِ
Boleh nashab atau Jar
مَاجَاءَ الْقَوْمُ خَلاَزَيْدًا
\خَلاَ زَيْدٍ
12. ISIMNYA LA ( لاَ )
A. La yang masuk pada isim, dinamakan La Linafyil jinsi. Ia beramal sepertiاِنَّ (menashabkan isim dan merafa’kan khobar) , apabila ia masuk pada:
(1) Isim Nakiroh, (2) La nya tidak berulang-ulang dan (3) Isim Nakiroh itu bersambung langsung dengan La. Misalnya:

(لاَاِِلهَ) ora ana pangeran (اِلاَّالله ُ) kejaba Allah. (Tidak ada Tuhan, selain Alloh) لاَاِِلهَ اِلاَّالله ُ

( لاَاِكْرَاهَ) ora ana paksaan, ( فِى الدِّيْنِ ) ingdalem agama (tidak ada paksaan di dalam agama) لاَاِِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ

(لاَ طَاعَةَ) ora ana taat (لِمَخْلُوْقٍ) maring mahluq (فِى مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ) ingdalem ma’shiyat maring Alloh (tidak ada taat kepada mahluq, di dalam ma’shiyat kepada Alloh) لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِى مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
Kalimah-kalimah yang digaris bawahi pada contoh-contoh diatas, semua harus beri’rob nashab, karena isim nakiroh yang secara langsung dimasuki La, dan La nya tidak berulang (hanya satu)
B. Isim La boleh Nashab / rafa’, karena La boleh beramal (menashabkan) dan boleh ilgho’ (tidak beramal). Yaitu apabila La berulang dan bertemu dengan isim nakiroh. Misalnya :
(لاَرَجُلَ) ora ana utawi wong lanang, ( فِى الدَّارِ) iku ingdalem omah, (وَلاَاِمْرَاَةَ) lan ora ana utawi wong wadon, iku ingdalem omah. (tidak seorangpun laki-laki berada di rumah, dan tidak seorang wanitapun)
لاَرَجُلَ فِى الدَّارِوَلاَاِمْرَاَةَ
لاَرَجُلٌ فِى الدَّارِوَلاَاِمْرَاَةٌ
Jika lafadz رَجُلَ dan اِمْرَاَةَ dibaca nashab, berarti menjadi isimnya لاَ yang beramal. Dan jika lafadz رَجُلٌdan اِمْرَاَةٌ dibaca rafa’, berarti لاَ tidak beramal. Sehingga lafadz رَجُلٌmenjadi mubtada’ dan lafadz فِى الدَّارِ menjadi khobarnya.
C. Apabila La tidak bertemu langsung dengan isim nakiroh, maka isimnya La wajib rafa’ (karena ia menjadi mubtada’ muakhkhor), dan La harus berulang. Misalnya :
(لاَ فِى الدَّارِ) ora ana iku ingdalem omah, (رَجُلٌ) utawi wong lanang, ( وَلاَ) lan ora ana iku ingdalem omah ( اِمْرَاَةٌ ) utawi wong wadon.(tidak ada seorang laki-laki dan seorang perempuan, di dalam rumah). لاَ فِى الدَّارِرَجُلٌ وَلاَاِمْرَاَة ٌ
1. Wajib menashabkan. Bila LA bertemu langsung dengan isim Nakiroh, dan LA tidak berbilang.
لاَرَجُلَ فِىالدَّارِ 2. Boleh beramal &Boleh ilgho’ (tidak beramal). Bila LA berbilang.
لاَرَجُلَ\رَجُلٌ فِى الدَّارِوَلاَاِمْرَاَةَ\اِمْرَاَةٌ 3. Wajib Rafa’. Bila LA tidak bertemu langsung dengan isim nakiroh.
لاَ فِى الدَّارِرَجُلٌ وَلاَاِمْرَاَة ٌ
13. MAF’UL MA’AH
A. Pengertiannya.
Ialah isim yang dinasabkan, yang jatuh setelah Wawu Ma’iyyah ( Wawu yang berarti ‘serta’)
B. Syarat-syarat Maf’ul Ma’ah
1. Maf’ul Ma’ah itu hanya sebagai tambahan.
2. Sebelum Maf’ul Ma’ah harus sudah merupakan jumlah yang telah sempurna.
3. Wawu harus bermakna ‘serta’.
Contoh-contoh :
(سَارَ) Wus mlaku, sopo (عَلِيّ)‘Ali, (وَالْجَبَلَ) sartane gunung. (Ali telah berjalan bersama Gunung) سَارَ عَلِيّ وَالْجَبَلَ
(اِسْتَوَى) Wus madhani, opo (الْمَاءُ) banyu, (وَالْخَشْبَةَ) sartane kayu. (Air itu telah menyamai kayu) اِسْتَوَى الْمَاءُ وَالْخَشْبَةَ
أنَا سَائِرٌ وَالنِّيلَ
فأجْمِعُوا أَمْرَكم وشُرَكاءَكم
14. Matbu'at ( yaitu isim-isim yang diikutkan pada isim-isim yang sebelumnya)
Penjelasan tentang al matbu'at, telah disebutkan di depan. Matbu'at ada 4, yaitu : Shifat Maushuf, Athaf Ma'thuf, Taukid Muakkad, dan Badal Mubdal.
BAB ISIM-ISIM YANG HARUS DIJARKAN
Isim harus beri'rob Jar hanya pada 3 tempat, yaitu :
1. Apabila di dahului oleh salah satu kharf Jar
2. Apabila menjadi Mudhof ilaih, dan
3. At Tabi'at ( Isim-isim yang I'rob dan hgkumnya mengikuti isim-isim yang sebelumnya). Yaitu :
(1) Shifat i'robnya mengikuti maushufnya
(2) Athaf, i'robnya mengikuti isim yang di ngathafi.
(3) Badal, i'robnya mengikuti isim ysng dibadali, dan
(4) Taukid, i'robnya mengikuti yang ditaukidi.